Beranda > LAPORAN UTAMA > Berondolan Sawit Hidupi Keluarga

Berondolan Sawit Hidupi Keluarga

ddaa

Berondolan Sawit Hidupi Keluarga

Oleh Khairul. A / Alamsyah

“Mamak ambil air ke sungai,” sambut Yusnidar (18) menjawab kehadiran Transparan setibanya didepan rumah yang terletak tidak lebih dua meteran dari pinggiran jalan Kampung Benteng Anyar Kecamatan Mayak Payed Kabupaten Aceh Tamiang. Selasa sore pekan lalu.

Halaman rumah terlihat tetata rapi, meski tidak ada satu rumpun tanaman hias mengelilingi rumah papan beratap daun nipah yang mulai lapuk termakan usia ini, maklum, sudah hampir delapan tahun mereka menumpang hidup diatas sepetak lahan milik warga setempat, namun belum pernah sekalipun dilakukan perehaban terhadap bangunan rumah yang dindingnya mulai berwarna coklat kehitaman.

“Rumah ini-pun dibuatkan warga disini, kalau tidak, saya dan enam orang anak saya tidak tahu harus tinggal dimana.” tutur Rukiyah (48), orang tua perempuan Yusnidar dengan air mata mengambang, sesaat pulang mengambil air dari sungai yang berjarak tidak kurang dari 1 km.

Rumah yang berukuran 3×5 meter itu hanya terdiri dari satu bilik dapur, satu kamar tidur dan satu ruang tamu yang juga berfungsi sebagai kamar tidur, dengan ornamen sebuah tilam tipis diatas bayang (tempat tidur kecil) yang salah satu kaki penyanggahnya patah, sehingga Rukiyah-pun menjadi sungkan untuk mempersilahkan tamunya masuk.

Dengan rasa sungkun pula ia membopong keluar kursi panjang yang terbuat dari bahan kayu sembarang yang kerap digunakan untuk melepas lelah disaat rutinitasnya mencari nafkah rampung untuk diberikan kepada tamu-tamunya. “Maaf pak…didalam berantakan, diluar saja, engak apa-kan ?, “ katanya kepada Transparan harap-harap cemas, takut sang tamu menolak tawaran dan upayanya berbagi sesaat kursi kesayangannya itu.

Rukiyah-pun mulai bercerita tentang kisah hidupnya. Satu persatu kepedihan hidup yang dialami sejak berada di lokasi transmigrasi lokal di Peunanor Kabupaten Aceh Timur, hingga ia dan keenam anaknya hijrah ke Kampung Benteng Anyar diungkapkannya secara gambang dan tanpa malu-malu, “Untuk apa saya harus malu atau menutup-nutupi apa yang terjadi dengan keluarga saya, toh…warga disini sudah paham betul bagai-mana saya.” masih dengan menahan genangan air mata yang siap meluncur diantara tulang pipi yang mulai terlihat mencuat..

Apa yang terjadi dengan keluarganya bukan menjadi masalah atau harus diperma-salahkan sehingga harus dibesar-besarkan, yang pasti semua telah terlanjur terjadi – nasi telah menjadi bubur – tak mungkin lagi untuk dimasak menjadi nasi, akan tetapi, perjuangannya selama hampir delapan tahun untuk menghidupi dirinya dan keenam anaknya perlu mendapat sorotan, bagaimana tidak, kehidupannya penuh berlimang dengan belas kasih para tetangga, bahkan hingga keurusan dapur. “Jangankan untuk mengganti atap rumah yang bocor, untuk makan saja terkadang kami harus berhutang.

Ya…syukurnya masih banyak warga disini yang perduli dengan kehidupan kami pak…, sampai-sampai saya kerja di perkebunan ini pun atas bantuan warga, kalau tidak saya tidak tahu harus bagaimana.” ujar Rukiyah.

Wajahnya kusut, tubuh kurus dengan kulit hitam legam, seakan terpanggang sang mentari, Rukiyah, setiap hari harus berjalan dibawah rindang pepohonan sawit mulai pagi hingga menjelang sore, hanya untuk mengumpulkan butiran buah “brondolan” sawit yang berjatuhan. Hanya pekerjaan se-macam itu yang disediakan perusahaan untuk Rukiyah agar tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya.

Tentunya, perusahaan juga memberi imbalan atas jerih payahnya senilai Rp.300 ribu hingga Rp. 400 ribu setiap bulan. Sayang, nilai itu juga dianggap masih terlalu kecil baginya, apa lagi ia harus membiayai 3 orang anak yang masih bersekolah.

“Kalau yang sulung ini (menunjuk Yusnidar), sekarang tidak lagi sekolah, saya hanya mampu membiayainya sampai kelas tiga esde, yang nomor dua baru saja berumah tangga itu pun sekolahnya tidak selesai, sama seperti kakaknya, nah… tinggal yang tiga inilah, itupun saya tidak tahu apakah masih mampu membiayai sekolah me-reka sampai tamat atau tidak.” cemasnya

Memang, kecemasan itulah yang cenderung menghantuinya, kekuwatiran yang cukup beralasan tentang ma-sa depan anak-anaknya, karena upah yang diperoleh Rukiyah, lebih banyak dipergunakan untuk membayar hutang kepada pemilik kios dan sejumlah tetangga. “Kalau tidak hutang bagaimana kami bisa makan pak, beginilah kami bisa mempertahankan hidup, begitu terima gaji begitu habis untuk bayar hutang, ya… terkadang tidak semuanya bisa saya bayar, karena harus menyisihkan sedikit untuk keperluan anak-anak seko-lah.”  lanjutnya

Pernah suatu hari Rukiyah berharap tinggal ditanah dan rumahnya sendiri, tepatnya disaat bantuan dana banjir bandang diluncurkan, karena ia masih merupakan salah satu keluarga yang menjadi korban saat itu, sayang, bantuan itu hingga kini belum juga pernah sampai kepangkuannya, bahkan beberapa waktu lalu, ia sempat membeli sepetak tanah dari seorang dermawan di desa tersebut dengan harga yang teramat murah.

“Tanah itu yang belikan juga orang tua saya, tadinya, saya berharap pemerintah daerah mau menyalurkan bantuan untuk pembanguan rumah kami, tapi sampai sekarang kami tetap seperti ini, hidup menumpang ditanah orang.” papar Rukiyah

Ya…Rukiyah memang berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkan sepetak tanah, meskipun ia mengemis kepada orang tuanya yang mulai renta dikampung halamannya di Aceh Timur dan mengemis kepada seorang dermawan di Kampung Benteng Anyar agar mendapatkan harga tanah murah, pasca terjadi banjir bandang akhir Desember 2006 silam, tujuannya agar mendapat bantuan rumah seperti sejumlah warga lain yang telah terlebih dahulu mendapat bantuan rumah dari Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang pasca bencana dimaksud.

“Sepengetahuan saya, kami sudah terdata sebagai salah satu keluarga yang memperoleh bantuan pembangunan rumah, tapi saat itu saya belum ada tanah, jadi saya tidak bisa dibantu, kata mereka yang mendapat bantuan pembangunan rumah hanya  orang yang memiliki tanah sendiri, karena kami tidak punya tanah saat itu, jadinya kami tidak diberikan bantuan itu, maka saya memberanikan diri untuk minta bantuan sama orang tua saya, tapi nyatanya sampai sekarang kami juga belum mendapat bantuan itu.” jelasnya.

Hal itu juga yang diaminkan Kepala Dusun Jambu Kampung Benteng Anyar, A.Rani yang secara kebetulan melintas dan mampir sekaligus ikut terlibat dalam perbincangan di senja hari itu.

Menurut dia, berbagai upaya telah dilakukan untuk membantu keluarga Rukiyah keluar dari permasalah beban hidup yang ditanggung sendiri selama ini, setidaknya sebagai tahap awal ia memiliki tempat tinggal sendiri.

“Segala sesuatu yang menyangkut dengan bantuan yang dikususkan untuk mereka yang tidak mampu, pihak desa selalu mengutamakan keluarga ini, tetapi kami tidak dapat berbuat banyak ketika ada peraturan yang mengharuskan untuk memiliki lahan sendiri agar bisa dibangun rumah bantuan banjir.” diakui Rani.

Bahkan, dikatakannya, hingga saat ini pihak desa masih berupaya agar keluarga ini tetap mendapat bantuan rumah dari pemerintah daerah.

Selain itu A. Rani juga menambahkan, sepengetahuannya beberapa surat permohonan pernah diajukan, sayang, ia tidak mengetahui persis kemana pastinya surat-surat tersebut ditujukan, katanya, yang mengetahui secara pasti ihkwal tujuan surat tersebut adalah sekretaris desa dan datok penghulu, ia hanya melakukan pendataan sesuai arahan yang diberikan.

Ya…semoga saja, tujuan surat permohona itu memang ditujukan ke intansi yang tepat, agar angan Rukiyah  untuk mendapat tempat tinggal yang layak dapat terwujud, sehingga pikirannya dapat dicurahkan sepenuhnya untuk mencari nafkah dan membiayai pendidikan anak-anaknya hingga mencapai sepersekian harapan dan angannya.

Dibawah teduhan atap ni-pah usang, dengan pakaian bekas pemberian warga sekitar, diantara kepulan asap dapur yang membumbung keangkasa raya, dibalik temaram 2 buah lampu pijar yang baru dinyalakan tetangganya yang baik hati, Rukiyah beserta ketiga anaknya menatap kepergian media ini-setelah bertolak sila- dengan sebuah pengharapan “Masa depan yang lebih menjanjikan.”**

Iklan
Kategori:LAPORAN UTAMA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: