Beranda > LAPORAN UTAMA > Ngaku Kader PA, Serobot Lahan Warga

Ngaku Kader PA, Serobot Lahan Warga

SDC10524Ngaku Kader PA, Serobot Lahan Warga

Oleh Khairul.A / Alamsyah

Aceh Tamiang, Transparan – 100 ha Hutan Cadangan Kampung Wonosari Kecamatan Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, dirampas mantan calon anggota legislatif Partai Aceh.

Entah karena kecewa tidak mendapat dukungan penuh dari warga setempat, sehingga tidak lolos menjadi anggota legislatif saat  Pemilu lalu, atau memang ingin menunjukkan suatu kekuasaan yang absolut,  teganya M, yang mengaku sebagai salah seorang mantan calon anggota DPRK 2009-2014 untuk daerah pemilihan III di Kabupaten Aceh Tamiang dari partai politik lokal PA, mencaplok lahan perkebunan warga Wonosari, meski warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Wono Lestari ini, telah mengantongi izin penggarapan lahan seluas 100 ha bekas PT. Roda Garuda Mas –RGM-dari Datok Penghulu setempat.

Sesaat, Nano (34), Ketua Kelompok Tani Wono Lestari terdiam ketika Transparan memasuki ruang tamu LSM Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari). Tatapan matanya-pun terlihat dilumuri berbagai pertanyaan, meski sebelum itu, ia telah mendapat kabar tentang rencana kedatangan media ini kelembaga tersebut, Selasa sore (11/8).

Tak ingin, mengundang pertanyaan tambahan, setelah saling berkenalan, setelah Nano selesai menyantap makan siang yang disediakan anggota LSM LembAHtari, kisah tentang pencaplokan lahan 100 ha yang akan digarap Kelompok Tani Wono Lestari, dimulai. “Sebenarnya lahan itu merupakan kawasan hutan cadangan Desa Wonosari yang dilepas perusahan PT.RGM tahun 1992.

Sebelum kami memulai memanfaatkan hutan itu, kami terlebih dahulu melakukan musyawarah, tujuan utama kami, untuk meningkatkan taraf hidup dan perekonomian warga, ya…setidaknya dengan ada penambahan lahan yang kami rencanakan akan diberikan kepada lima puluh orang anggota kelompok tani, masing-masing dua hektar, dan kami yakin, dengan dimanfaatkannya lahan tersebut, maka taraf hidup perekonomian warga Wonosari akan lebih meningkat.” kata Nano

Perjalanan lumayan panjang untuk memperoleh izin penggarapanpun dilalui, maksudnya, agar penggarapan dan pemanfaat lahan hutan cadangan memperoleh kekuatan hukum. “Bak pucuk dicinta, ulam-pun tiba.” 26 April 2009 Datok Penghulu Kampung Wonosari Zulkarnain mengeluarkan surat keterangan izin garap dengan nomor 400/108/2009, disamping kelompok tani ini juga memegang surat rekomendasi dari Camat Tamiang Hulu, Hidayatsyah, dengan nomor surat  590/18/2009 tertanggal 12 Mei 2009 yang pada intinya mendukung rencana kegiatan dimaksud.

Sayang, disaat warga mulai melakukan pembersihan lahan, disaat itu pula M, dengan membonceng embel-embel Partai Aceh (PA), menghalangi kegiatan warga, bahkan sempat terlontar kalimat yang menyebutkan “Tanah yang ada di Tamiang Hulu dan Bandar Pusaka, milik orang PA”.

Sungguh ironis, bila itu benar diungkapkan mereka yang kini berjuang dengan mengatas namakan dan untuk kepentingan masyarakat, pasalnya, warga Wonosari ini juga merupakan bahagian dari masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang yang notabene-nya pula bahagian dari masyarakat Aceh.

Masih dari penuturan Nano, tak hanya sampai disitu, untuk membuktikan sekaligus menunjukkan kekuasaannya, sehelai bendera partai PA-pun ditancapkan dipucuk pepohonan dalam kawasan itu. “Ya…kalau sebelum Pemilu legislatif kemarin, mungkin masih bisalah kita katakana bahagian dari kampanye, tetapi benderanya dipasang setelah selesai Pemilu, apa kira-kira maknanya kalau tidak menunjukkan bahwa lahan itu sudah dikuasai dia –maksudnya M- .” duganya.

Barbagai bentuk kekuasaan semu terus dipertontonkan kepada sebahagian warga di Kampung Wonosari, akibatnya warga mulai resah. “Untuk meredam ketegangan akibat peristiwa pencaplokan lahan itu, kami mengundang mereka untuk melakukan musyawarah, tetapi mentok tidak mendapat jalan keluar, mereka tetap mau menguasai lahan itu.

Kemudian lanjutnya, tanggal 6 Agustus 2009 kami kembali melakukan pertemuan, kali itu difasilitasi LembAHtari dan LSM Sheep, tapi sampai sore tidak ada satu orang-pun dari mereka yang datang, ya…akhirnya sampai sekarang belum ada titik temu.” papar Nano.

Pencaplokan lahan warga, yang seyogianya nanti akan ditanami pepohonan karet, sepertinya akan memicu pertikaian baru. “Peristiwa ini sangat berpotensi terjadinya konflik baru, masyarakat yang merasa terus ditekan, suatu saat akan bangkit dan melakukan aksi, ini yang tidak kita inginkan, dari eforia yang mereka pertontonkan.” ujar Direktur LembAHtari, Sayed Zainal.

Sayed Zainal juga menyesalkan, di-era mengisi perdamaian Aceh yang telah berjalan lima tahun ini, masih saja ada orang mengagungkan suatu kelompok tertentu, hanya untuk meraih sebuah kekuasaan yang sarat dengan kepentingan pribadi.

Sayed hanya berharap, perstiwa ini dapat segera terselesaikan, “Jangan ada motofasi atau muatan yang mengarah kepolitik, apa artinya kita selalu mengatakan untuk kesejahteraan masyarakat, toh…ujung-ujungnya kita juga yang mengambil hak masyarakat.” tegasnya.

Sementara, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Aceh Kabupaten Aceh Tamiang, Tgk. Helmi Ahmad, saat dikonfirmasi melalui selular menyebutkan tidak mengetahui permaslahan tersebut, namun ia berjanji akan memanggil dan mempertanyakan persoalan tersebut kepada M, guna melihat sebesar apa permasalahan yang ditimbulkan akibat ulah M yang membawa-bawa nama parti politik untuk meraih keuntungan pribadi.

“Kita dari partai tidak pernah meminta apalagi menyuruh orang mengambil haknya masyarakat, itu tidak kita tolerin, kita akan panggil dan tanya dia nanti,” janji Tgk. Helmi.

Hal senada juga dikatakan Sekretaris DPW Partai Aceh Kabupaten Aceh Tamiang, Rusman, dimana ia sangat menyayangkan bila benar hal itu terjadi, “Saya kalau masalah Wonosari tidak tahu menahu, dan selama ini tidak ada laporan ke partai, ada kemungkinan ia melakukan hal tersebut hanya untuk kepentingan pribadi.

Memang benar kalau M merupakan caleg dari PA, tetapi menyakut hal lahan di Wonosari, kami dari partai tidak pernah menyuruh atau memeritahkan dia untuk melakukan itu. Terkait dengan pengibaran bendera partai di lokasi, saya akan menyuruh orang untuk menurunkannya, kalau perlu siapa yang menaikan dia yang harus menurunkannya.” Jelas Rusman dari seberang handphone lain yang juga meminta agar M dapat menyelesaikan permasalahan itu secara pribadi, tanpa melibatkan Partai Aceh.

Terlepas dari ada atau tidaknya keterlibatan partai dalam pencaplokan lahan Kelompok Tani Wono Lestari di Kampung Wonosari Kecamatan Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, yang pasti ada pihak yang dengan sengaja menghembuskan butiran-butiran perseteruan baru untuk meraih keuntungan. Ya…semoga saja tidak demikian.***

Iklan
Kategori:LAPORAN UTAMA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: