Beranda > Tak Berkategori > Penantian Tak Berujung

Penantian Tak Berujung

Penantian Tak BerujungPicture1

Oleh Chaidir Azhar

MEULABOH,Transparan- Siapapun orangnya, terutama mereka yang tinggal di Aceh, pasti tidak akan pernah melupakan kedahsyatan bencana gempa dan tsunami 2004 lalu, bahkan mata duniapun ikut menyoroti peristiwa mengenaskan saat itu, sehingga milyaran dolar pun mengucur bak gelombang pasang melalui tangan-tangan NGO, dengan tujuan menyeka kedukaan para korban bencana.

Bisa jadi mereka yang memperoleh bantuan tersenyum dibalik duka, tatapi, meski bencana telah berlalu hampir lima tahunan, masih saja ditemui warga yang hingga kini masih terpaku menanti uluran bantuan yang tak pernah kunjung tiba.

Seperti Nurhati (32), warga Desa Pasi Tengoh Kecamatan Kaway XVI, penantiannya terhadap bantuan yang pernah dijanjikan sepertinya tak memiliki ujung. Mungkin itupula yang dibayangkan Nurhati dalam lamunannya dibalik daun jendela rumah yang mulai keropos sesasat media ini tiba.

Jalan menuju rumah Nurhati yang berjarak tidak kurang 10 km dari Kota Meulaboh ini, memang tidak sebagus jalanan umum lainnya, tetapi tidak juga seburuk jalanan masuk menuju desa-desa tertinggal yang ada di sejumlah Kecamatan di Aceh Barat. Hamparan batu krikil terpoles disepanjang jalan setapak menuju rumahnya, setelah terlebih dahulu melalui sebuah jembatan gantung.

Nurhati menyambut girang, bercampur keraguan penuh tanda tanya saat menyambut kedatangan Transparan, Selasa siang pekan lalu, pasalnya, ia menduga yang datang adalah si-penyalur bantuan. Sayang, si-penyalur bantuan ternyata masih enggan untuk turut singgah dirumah beratap daun nipah yang mulai terlihat usang, dengan lantai rumah yang terbuat dari papan lapuk sisa puing bencana.

Dengan masih menggendong, si-bungsu Nurhati menuruni anak tangga rumahnya, sembari berujar, “Maaf….kita diluar saja ya…, saya takut adik-aduk nanti jatuh, karena lantai rumah saya sudah pada lapuk, kalau dulu memang saya punya rumah permanen ya..ditanah ini juga, tapi setelah bencana itu, rumah kami rata dengan tanah”, kenang Nurhati.

Lalu lanjutnya, kami sempat bertahan di tempat pengusian, cukup lumayan lama, tapi siapa yang sanggup hidup berlama-lama disana, makanya kami sedikit-sedikit ngumpulin papan-papan bekas tsunami untuk bangun rumah ini, habis kalau nunggu rumah bantuan, buktinya sampai sekarang belum ada juga, malah saya kira kalian tadi orang dari pemerintahan yang mau bantuan rumah,” senyumnya terkembang meski air mata mengambang diantara garis pelupuk matanya.

Kemudian katanya, ia terlalu sering mendengarkan tentang korban gempa dan tsunami yang akan mendapat bantuan dari NGO dan Pemerintah – seperti yang tinggal di simpang sana-sambil menunjuk kearah di depan  rumahnya, ”Mereka mendapatkan bantuan karena rumah mereka hancur saat gempa, tapi saya tidak dapat” tambahnya.

Saat disinggung tentang dana rehab oleh Trasparan, dengan cepat Nurhati memotong, “Jangankan bantuan rehab, bantuan dana BBM yang seratus ribu saja, saya tidak pernah dikasih, padahal di pintu rumah ada tanda sebagai orang miskin yang di tempel kepala desa, mungkin karena saya tidak ada hubungan darah dengan bupati atau pejabat didaerah, makanya kami tidak dapat bantuan itu.” Paparnya.

Nurhati juga mengatakan, ia pernah didatangi kepala dusun dengan orang-orang yang membawa kamera, mereka melakukan pemotretan rumah, setelahnya mereka juga meminta uang Rp.5.000 hingga Rp.10.000 sekali foto, “Itu bukan sekali atau dua kali, yang saya ingat ada hampir lima puluh kali mereka melakukan itu, tetapi sampai sekarang belum ada yang jelas.” ungkapnya penuh kesal.

Ia menambahkan, hampir ratusan fotocopy KTP dan KK yang di minta “Kata kepala dusun sih…mau segara dibangun rumah, tapi yang saya lihat setelah bantuan rumah ada bukan rumah saya yang hancur total tapi rumah orang-orang yang bukan korban dan yang rumahnya hancur sedikit yang di bangun, begitu juga waktu dana rehab dibagikan yang bukan korban gempa dan rumahnya tidak hancur dapat dana rehab sedangkan saya tidak dapat apa-apa,” papar nya dengan nada sedih.

Dipenghujung perbincangan, sebuah harapanpun muncul, tentang sebuah penantian yang tak pasti.***

Iklan
Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: