Beranda > Daerah > Bukan Orang Aceh Jangan Harap Dapat Bantuan

Bukan Orang Aceh Jangan Harap Dapat Bantuan

Bukan Orang Aceh Jangan Harap Dapat Bantuan

Picture1MEULABOH, Transparan- Konflik yang melanda Aceh membuat perekonomi masyarakat terpuruk, belum lagi musibah gempa dan tsunami yang kian menenggelamkan harapan masyarakat Aceh untuk bangkit dari keterpurukan. Meski pasca tsunami banyak donator datang dari berbagai negara, dengan sigap pemerintah pusat membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias (BRR) untuk menanggulangi musibah besar tersebut.

Sejalan dengan rehabilitasi & rekonstruksi Aceh, tepatnya pada tanggal 15 Agustus  2005 terjadi peristiwa paling mengembirakan bagi rakyat Aceh, yaitu adanya kesepahaman damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinky, Finlandia. Setelah Mou ditanda tangani, pemerintah membentuk Badan Reintregrasi Damai Aceh (BRA) untuk memfasilitasi para mantan kombatan dan korban konflik.

BRR dan BRA memiliki misi yaitu membangun Aceh kembali dan menciptakan keadilan serta kesejahtraan masyarakat Aceh, namun misi ini  hanya tinggal kenangan, janji dan pengharapan yang diberikan oleh berbagai lembaga besar milik pemerintah yang bersumber dari kas negara serta sumbangan negara donor atas penderitaan masyarakat Aceh dikuasai oleh segenap orang-orang yang rakus.

Inilah yang tergambar saat Transparan bertemu Parmi (39) warga Jl. Imam Bonjol Gampong Suak Raya Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat, gubuk ukuran 2×3 meter adalah istana wanita separoh baya ini yang berjarak 10 KM dari pusat Kota Meulaboh. Didepan pintu gubuknya Parmi berkata “mau beli tanah disini
nya pak?” tanya ibu dua anak ini  kepada transparan sambil mempersilahkan masuk dan menujukan air untuk mencuci kaki kepada Trasparan, Kamis pekan lalu.

Untuk mencapai lokasi pemukiman ini harus berjalan kaki sejauh setengah kilo meter dengan kondisi jalan tikus yang berlumpur, “beginilah kondisi tempat tinggal kami, maklum pak disini tempat tinggal orang-orang terbuang, sebenarnya ada apa pak? apa mau beli tanah disini,” ujar Farmi dengan logat Jawa-nya.

Setelah mendapat penjelasan bahwa yang datang bukanlah orang yang akan membeli tanah ataupun untuk memberi bantuan, wajah Farmi mulai tenang, ia juga memaparkan akan ketakutannya “Kalau tanah di wilayah itu sudah dijual oleh Tgk Bari (pemilik tanah) kemana kami tinggal lagi, saya disini dulunya adalah pengungsi korban konflik pak, tidak punya saudara disini.”

Lebih lanjut Farmi menceritakan sejarah mengapa ia berada di dalam hutan tersebut, “Saya adalah orang transmigrasi dari Jawa, dulu saya tinggal SP Dua Desa Sumber Batu Kecamatan Meurebo, karena konflik saya dan warga lain yang bukan orang Aceh terpaksa harus eksudus, waktu itu tidak punya uang jadi  tidak bisa keluar dari Aceh dan memilih mengungsi di desa ini, empat tahun hidup dibawah tenda dalam pengungsian,”

“Ketika gempa dan tsunami yang menerjang tenda pengungsian saat itu saya dan suami berfikir bahwa dunia ini sudah kiamat, setelah itu kami terpisah, sempat terpikir ingin bunuh diri, beruntung tuhan mempertemukan kami kembali, hidup melanglang buana membuat kami sadar, inilah yang namanya perjuangan hidup,” kenangnya.

Ketika Transparan bertanya mengenai bantuan yang pernah diterima, ia meneteskan air mata, “Jangan tanya masalah itu, kami sudah iklas tidak diberikan batuan tersebut, sebab saya sadar bukan orang Aceh mana mungkin kami diperhatikan pemerintah disini, dulu suami saya pernah mengurus pada kantor BRA tapi kata mereka kami tidak layak mendapatkan bantuan korban konflik karena kami bukan orang Aceh, apa lagi BRR, yang hanya memberi bantuan kepada orang yang pada tsunami punya rumah sendiri dan tanah sendiri, sedang saya kan ngak punya jadi mana dapat, dari pada saya malu meminta yang bukan hak saya lebih baik hidup begini walaupun susah karena ini sudah menjadi takdir dari Yang Kuasa.” tuturnya

Sungguh malang kehidupan Farmi dan keluarganya, hidup jauh dari perkampungan dengan pekerjaan membantu suaminya, M. Amin (43), sebagai pesuruh dikebun karet milik orang yang berpenghasilan hanya Rp. 15.000/hari, untuk menghidupi keluarganya serta biaya sekolah anaknya yang bungsu sebab abangnya sudah putus sekolah.

Saat disinggung tentang bantuan lain seperti BLT dan lainnya, Farmi hanya bisa berkeluh. “Tunggu saja suami saya pulang agar ada saksi atau tanyakan saja sama tetangga sebelah, sebab kalau saya ngomong mungkin bapak anggap bohong, tapi kalau ada saya dapat biar haram kalau saya makan, jangankan BLT, BBM pun tidak pernah saya rasakan,” pungkasnya.

“Udahlah pak, tidak ada gunanya saya banyak bicara, kami sekeluarga sudah sangat senang tidak diganggu lagi seperti masa konflik, sekarang hanya bisa berharap kepada bupati dan anggota dewan yang baru dilantik agar lebih peduli kepada orang miskin, tidak mesti kepada kami, karena kami sadar disini hanya menunggu mati, tetapi saya punya harapan agar anak-anak yang sudah lahir disini mendapatkan perhatian dari Pemerintah Aceh Barat, sebab anak saya adalah anak Aceh, tanah kelahirannya disini,” pintanya (TB 16)

Iklan
Kategori:Daerah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: