Beranda > LAPORAN UTAMA > Gubukku Istanaku

Gubukku Istanaku

Gubukku  Istanaku

Oleh Heriani/Diah Ayu Lestari Pasaribu

Picture1LANGSA, Transparan– Seorang ibu paruh baya terlihat duduk santai didepan rumah yang mungkin sesaat lagi akan roboh bila diterpa angin kencang. Entah apa yang dilamunkannya, tatapan matanya begitu kosong memandang jauh kedepan, ya…mungkin saja ada sebuah masa depan yang sedang menari diantara harapan yang belum pasti.

Nursiah (43), warga Blang Pase Lingkungan Melati Jalan Syah Kuala Langsa Kota, berprofesi sebagai tukang cuci dengan upah tidak lebih dari Rp. 20.000,- per hari. Dengan uang itu pula ia mencoba memenuhi kebutuhan keluarga dan menutup biaya sekolah kedua buah hatinya.

Meski dirasakan masih jauh dari cukup, Nursiah tetap bersyukur dengan rezki yang diperoleh. Mungkin, semangatnya yang membuat ia tetap bertahan hidup bersama anak-anaknya dibawah naungan terpal pengganti atap rumah.

Bergegas Nursiah beranjak dari tempat duduk ketika Transparan menyatroni kediamannya, Jum’at sore pekan lalu. “Silahkan masuk buk…,” ucapnya menyambut.

Sekilas mata terpaku ke tengah ruangan yang tak bersekat itu, hampir seluruh dinding bangunan terbuat dari papan bekas yang mulai rapuh termakan usia. Dari sela-sela dinding tampak “mengintip” seberkas sinar mentari yang mulai beranjak sirna di ufuk barat, “Beginilah keadaan rumah saya,” ujarnya membuka perbincangan.

Menurut pengakuan Nursiah, papan bekas tersebut didapat dari rumah-rumah disekitar tempat tinggalnya, “Seingat saya, kurang dari dua bulan rumah kami ini selesai dibangun,  itupun dibantu sama tetangga, malah tanah ini pun dikasih pinjam sama orang, ya….kami hanya numpang disini, yang penting anak-anak ada tempat berteduh.” paparnya.

Akan tetapi rasa kuatir tetap saja menghantui pikirannya, “Syukurnya sampai sekarang yang punya tanah masih berbaik hati, tapi kalau suatu hari nanti, tanah ini mau dibangun atau mau dijadikan apa, kami terpaksa harus pindah, nah….masalah ini yang selalu menjadi beban pikiran, mana anak-anak masih kecil butuh biaya banyak, belum lagi penghasilan tidak mencukupi.” keluhnya.

Sepintas terpancar kesedihan di raut Nursiah, sambil melanjutkan cerita tentang kisah perjalanan hidupnya , “Saya pernah memulai usaha dari berdagang ikan keliling kampung, ikannya langsung saya beli dari para nelaya, tapi pekerjaan itu hanya bertahan dua bulan.

Kita kalah bersaing sama penjual ikan yang punya modal banyak, apa lagi saya bawa ikannya hanya satu termos kecil, jualannya pun keliling jalan kaki, jelas saja kita kalah cepat dengan orang yang keliling menggunakan kereta (sepeda motor-red).” Lanjut Nursiah.

Selain menjadi penjual ikan keliling, Nursiah juga pernah menjadi penjaja jagung rebus di Lapangan Merdeka Kota Langsa, namun, dewi fortuna sepertinya belum juga berpihak, sehingga usahanya itupun harus menuai kegagalan.

Meski berbagai usaha telah dilakukan, akan tetapi belum juga mampu mendongkrak ekonominya, bahkan, ketika tidak lagi berjualan Nursiah kian merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Dalam penantiannya yang tak pasti, ternyata masih ada sejumlah orang yang menaruh perhatian kepada Nursiah. Meski tidak seberapa, namun bantuan yang diberikan para tetangganya itu, seperti beras dan lauk pauk, dirasakan sangat berarti untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya bersama anak-anak.

“Karena melihat saya tidak punya pekerjaan, lalu saya ditawari untuk jadi tukang cuci pakaian, sejak itulah saya mulai menjadi tukang cuci, habis tidak tahu lagi mau kerja apa, mana modal tidak punya lagi.” papar Nursiah.

Pekerjaan sebagai tukang cuci pangilan terus dilakoninya sampai saat ini. Menurutnya, terkadang dua hari sekali baru ada yang memanggil untuk mencuci pakaian. Terkadang tiga sampai empat hari baru ada panggilan untuk mencuci pakaian.

“Tidak semua orang yang memanggil saya itu untuk mencuci pakaian, terkadang ada juga orang yang memberikan sandal -sandal bekas. Sandal bekas yang bisa diperbaiki kemudian dijahit lalu saya jual, walau hasilnya tidak seberapa tetapi setidaknya dapat menambah keperluan sehari-hari.

Dengan profesi seperti ini tentu sangat berat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, apalagi buat jajan anak yang sekolah di kelas dua SD, terkadang anak saya tidak ada jajan.” ucap Nursiah kepada Transparan sembari menyuguhkan buah cempedak pemberian tetangganya kepada si bungsu.

Selang beberapa waktu, seorang perempuan paruh baya lain yang tenyata tentangga Nursiah ikut menyambung perbincangan sore itu. “Yah..beginilah keadaan teman saya ini, sejak tinggal disini belum pernah mendapatkan bantuan dari desa, baik itu jenis bantuan dana BLT atau BBM maupun bantuan untuk janda, anak yatim dan fakir miskin, paling cuma dapat beras miskin (raskin) saja dan sedekah untuk anak yatim seadanya,” tutur wanita paruh baya yang enggan disebut namanya ini,

“Pernah sewaktu ada pembagian dana bantuan buat fakir miskin dan janda tidak mampu serta dana BLT, saya datang seperti pengemis, setelah di cek ternyata tidak ada nama saya, tetapi orang yang rumahnya bagus malah mendapatkan bantuan.” tambah Nursiah yang merasa tidak diperhatikan.

Kesedihan Nursiah kian bertambah ketika melihat kedua anaknya yang asyik bermain-main dihalaman belakang rumah, “Bagaimana ya… hari raya Idul Fitri tidak lama lagi, tetapi belum ada peluang untuk usaha lain, pinginnya sih…saya berdagang sandal obralan saja, tapi bagaimana ya….ngak punya modal, saya tidak berani ambil uang dari rentenir karena bunganya terlalu tinggi.” tuturnya memelas.

Dalam kesulitan hidup yang dialaminya, ia tetap berusaha sabar membesarkan kedua buah hatinya. Semoga kedepan kehidupan Nursiah menjadi lebih baik, mampu mencukupi kebutuhan hidup, memiliki rumah yang layak huni serta memiliki kebahagian lahir dan bathin, semoga saja ada yang membantu dan memberikan kehidupan yang lebih layak dibandingkan  kehidupannya sekarang ini. Semoga….***

Iklan
Kategori:LAPORAN UTAMA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: