Beranda > Sosok > Tak Ingin Jadi “Pemalas”

Tak Ingin Jadi “Pemalas”

Tak Ingin Jadi “Pemalas”

Oleh Khairul A

Picture1Cacat fisik bukan berarti tidak mampu melakukan kegiatan usaha. Kemauan, tekad dan keyakinan serta semangat menjadi pilar utama memupuskan sebuah keterbatasan. Setidaknya itu pula yang diperlihatkan Hansani (47) warga Bukit Meutuah, Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa, yang mengaku tak ingin menjadi seorang “pemalas”.

“Beginilah kehidupan saya, walau saya tidak memiliki kaki sebelah, bukan berarti saya tidak bisa berbuat seperti orang lain.” ujar Hansani, mengawali perbincangan saat Transparan berkunjung ke rumahnya yang juga dijadikan tempat usaha, Sabtu (5/9).

Memang, tubuhnya yang tegap dengan raut wajah sedikit “keras” seolah mencerminkan kegigihan dan pantang putus asa, lihat aktifitasnya setiap hari, tidak hanya penghasilan dari usaha tambal ban semata yang menjadi tumpuan keluarga, tetapi usaha pangkas rambut dan sol sepatu (tukang jahit sepatu) juga dilakoni lelaki yang mempersunting Nurhama 18 tahun silam dan kini telah dikaruniai 5 orang anak.

Picture1Ber….ber…ber…, sebuah kendaraan roda dua berhenti tepat di depan rumah dan memutus perbincangan yang baru saja dimulai, “Tambal pak…”sebut sipengendara  yang ternyata ban roda belakang kendaraannya gombos terkena benda tajam.

“Maaf, saya harus tambal ban sebentar,” ujarnya sembari beringsut, meninggalkan media ini di bangku panjang yang tersedia di salah satu sudut teras rumah yang dijadikan tempat usaha.

Sesaat mata terpana, ketika melihat cara Hansani berpindah tempat duduk. Berlahan namun pasti dengan mengandalkan kedua belah tangan, ia mulai berjalan ngesot menghampiri sepeda motor yang terparkir menunggu kelincahan jari jemarinya.

Tak ingin tamunya duduk terpaku menjadi mandor saat ia bekerja, sekilas cerita duka tentang kaki kanannya mulai dituturkan. “Saya memang tidak pernah mau pakai tongkat sejak kaki saya ini diamputasi, kalau pakai tongkat rasanya seperti kurang menerima keadaan.

Saya masih ingat betul kejadiannya, ketika itu saya masih berumur sembilan tahun, saya ikut orang tua buka kebun diatas sana, ketika saya mau menyusul bapak (orang tua lelaki-red) tiba-tiba kayu yang baru ditebang jatuh dan menggelinding kearah saya, kayu langsung menimpa dan menyeret saya.” tuturnya.

Masih penuturan Hansani, setelah kejadian tersebut ia sempat dirawat beberapa waktu lamanya di RSUD Langsa, “Mungkin karena kurang bagus perawatannya atau entah apa, sehingga terjadi infeksi pada bekas luka akibat kecelakaan itu dan pihak rumah sakit tidak sanggup menanganinya. Kemudian, orang tua saya membawa saya ke Rumah Sakit Pertamina Rantau dan disana kaki saya di amputasi, menurut dokter disana sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” kenangnya.

Lagi-lagi perbincangan terputus, ketika ban sepeda motor tadi selesai ditambal. Selembar pecahan uang lima ribuan-pun masuk kesaku bajunya, “Alhamdulillah” tak lupa ia bersyukur atas rezki yang diperolehnya.

Dari beberapa jenis usaha yang dijalankan, Hansani mengaku memperoleh penghasilan sidikitnya Rp. 50.000,- per hari. Dengan penghasilannya itu, kini ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga kejenjang perguruan tinggi.

“Walau hidup kami masih seperti ini, tetapi saya tetap bersyukur karena saya dapat menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi. Memang sampai sekarang belum ada yang selesai sekolah. Syukurnya lagi, anak-anak semua mengerti dan memahami kondisi orang tuanya, jadi mereka tidak banyak neko-neko. Ya…mudah-mudahan saja sekolah mereka tidak putus di tengah jalan, apapun akan saya kerjakan, asal anak-anak tetap dapat menyelesaikan sekolahnya.” kata Hansani yang merasa bangga dengan kelima anaknya.

Pasang surut usaha yang ditekuninya memang tak ubah dengan perputaran roda, kadang diatas, kadang pula dibawah. Namun rasa optimis dan percaya diri membuatnya tetap dapat menjalankan usaha, sebagai sumber kehidupan keluarga.

Tak terasa satu jam lebih perbincangan berlangsung, kekaguman terhadap sosok Hansani yang tak pernah merasa minder dan enggan untuk berdiam diri ini, menjadikan perputaran waktu begitu cepat.

Satu hal yang perlu menjadi catatan, tak memiliki anggota tubuh yang sempurna, bukan berarti tidak mampu melakukan kegiatan sebagaimana orang normal lainnya. Lalu, mengapa masih banyak orang yang memiliki angota tubuh sempurna tetapi tidak mampu membiayai hidupnya ? ***

Iklan
Kategori:Sosok
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: