Beranda > LAPORAN UTAMA > Baling Karang Tak Terjamah

Baling Karang Tak Terjamah

Oleh Khairul.A

Picture1ACEH TAMIANG,Transparan-Desiran angin senja hari dan gemericik air terdengar syahdu, sesekali suara ceplukan air terhempas pukulan tongkat panjang pengganti kayuh perahu, mengusik ketegangan yang dirasakan saat menyeberangi arus deras Sungai Tamiang, beberapa pekan lalu.

Dibutuhkan sedikitnya 15 menit dengan mengunakan perahu kecil milik warga setempat untuk dapat mencapai Kampung Baling Karang Kecamatan Sekrak Kabupaten Aceh Tamiang, yang terletak tak jauh dari perbatasan Desa Simpang Jernih di Kabupaten Aceh Timur.

“Inilah kampung kami pak…, dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada kemajuan, malah, setelah bencana banjir bandang 2006, kampung kami semakin tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah daerah.” Keluh Datok Penghulu (sebutan untuk jabatan kepala desa di Kabupaten Aceh Tamiang-red) Sabar Ali, kepada Transparan setibanya di kampung yang hanya berpenduduk tidak lebih dari 55 keluarga itu.

Ya…mungkin saja apa yang dikatakan Sabar Ali yang diaminkan oleh warganya itu, ada benarnya juga, karena dari faktanya untuk mencapai kampung tersebut, satu-satunya sarana penyeberangan yang dipakai adalah dengan mengayuh perahu kecil, sementara alat penyeberangan lain seperti getek atau rakit apalagi jembatan belum pernah tersedia.

“Kalau janji ataupun rencana pemerintah daerah untuk membuat sarana penyeberangan sudah bosan kami mendengarnya, dari dulu hanya janji-janji, realisasinya entah kapan,” katanya dengan nada kesal.

Terlepas dari masalah sarana penyeberangan, menurut datok penghulu ini, hal yang lebih mendesak dan harus segera terealisasi dengan segera adalah tentang realisasi pembangunan rumah bagi korban bencana banjir bandang, dimana Kampung Baling Karang merupakan salah satu dari sejumlah kampung di bagian Hulu Sungai Tamiang yang mengalami kerusakan parah dimasa itu.

“Kampung kami merupakan salah satu kampung terparah yang dilanda bencana banjir bandang, sebenarnya, tidak ada satupun rumah yang dapat dipergunakan kembali pasca banjir itu, bahkan, pemerintah daerah telah pula menetapkan kampung kami ini menjadi salah satu kawasan yang tidak layak huni, karena dianggap terlalu dekat dengan bibir sungai, sehingga kami harus direlokasi kepemukiman baru.” papar Sabar Ali.

Sayangnya, justeru hingga saat ini warga masih menempati pemukiman lama, mereka tidak dapat melakukan relokasi pemukiman hanya karena disebabkan janji Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang untuk membangun pemukiman baru di lokasi yang baru tidak pernah terlaksana sepenuhnya, “Sejauh ini hanya ada pembangunan sekolah dan polindes di lokasi baru, itupun hanya sebatas pembangunan gedungnya saja tanpa ada mobiler sama sekali, bahkan itu juga belum difungsikan sampai sekarang.” lanjutnya.

Akibatnya, warga terpaksa membangun kembali rumah mereka dilokasi lama dengan sisa papan, kayu bahkan seng bekas, malah tidak jarang dari mereka mengunakan terpal bantuan NGO Asing yang dipergunakan mereka disaat berada dipengungsian pasca terjadinya bencana, untuk menutupi atap rumah mereka yang tidak memiliki atap.

Terkait relokasi pemukiman dan pembangunan perumahan, Sabar Ali menyebutkan, sejauh ini, bisa dikatakan belum ada satu wargapun yang menempati pemukiman baru, apa lagi menempati rumah baru, karena pada kenyataannya belum ada satu unit rumahpun yang dibangun sejak bencana banjir bandang berlalu.

Walau belum memperoleh bantuan rumah, bukan berarti warga Baling Karang harus tinggal diam dialam terbuka, dengan sisa-sisa puing reruntuhan rumah mereka yang sebelumnya mengalami kerusakan, mereka mulai membangunnya kebali rumah mereka dilokasi yang dianggap sudah tidak layak huni itu. “Dosa kalau kita katakan tidak ada bantuan pembangunan rumah untuk korban seperti kami ini, kami akui memang ada tapi yang dibantu hanya pondasinya saja….” terang Sabar.

Yang membuat Datok Penghulu Baling Karang bingung dan juga warganya yang hampir mencapai 20 persennya merupakan para Janda ini, adalah tentang pembangunan rumah bagi korban banjir bandang yang dianggap belum merata. “Bagaiman kami tidak sedih pak…,Kampung Serkil di seberang sana sudah seluruhnya selesai dibangun, tetapi kenapa kami di disini, sampai sekarang belum juga mendapat bantuan rumah, padahal kami juga masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.

Kami tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab sehingga kampung kami ini tidak diperhatikan, apa mungkin pemerintah daerah tidak lagi menganggap kami sebagai masyarakat Aceh Tamiang ?, kalau memang masih menganggap kami warga Aceh Tamiang, tolong jangan jadikan kami anak tiri.” pintanya.

Rasa kesal, kecewa, sedih terpancar dari raut wajah Sabar Ali dan sejumlah warga yang turut mendampingi datok penghulunya saat melakukan perbincangan sore dengan media ini.

Diufuk barat, sang surya tampak mulai terbenam, namun perbincangan sore belum juga berakhir, lampu sentir dan patromak tampak mulai dinyalakan, pertanda haripun mulai merangkak malam. “Nah, bapak lihat sendiri, listrik-pun kami tidak punya, padahal jaringan ada. Menurut bapak, apa status kampung ini?, kalau tidak dikatakan kampung tertinggal.” Sergah Datok Penghulu Baling Karang, kepada media ini yang seakan menjadi objek pelampiasan atas kekecewaannya terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang yang terkesan melupakan masyarakatnya yang berada jauh dari hingar-bingar kebisingan kota.

Lebih lanjut, Sabar Ali menuturkan tentang perjuangannya untuk memperoleh bantuan dari pemerintah setempat, terkait beberapa permasalahan yang menyangkut dengan kebutuhan kampung mereka.

Lalu katanya, kalau untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah, dirasakan sudah terlalu banyak, tetapi sampai saat ini belum ada satupun permohonan yang mendapat tanggapan dan respon positif, “Yang kami terima hanya janji, asal kami datang selalu dibilang bersabar, masih dalam proseslah…., masih belum ada dana lah…, tunggu ketok palu lah, pokonya macam-macam alasan yang sampaikan kepada kami, sementara kampung lain terus dibangun, jadi kapan giliran kampung kami dibangun.” omelnya.

Iringan musik okestra hewan Jangkrik pun mulai terdengar riuh rendah, seakan mendendangkan lagu pengharapan tentang suatu perubahan, seperti yang menjadi harapan Sabar Ali dan Warga Kampung Baling Karang. Bermodal keberanian yang tinggal setengah media ini pun bertolak sila, mohon pamit dengan menggenggam sebuah harapan dari warga Kampung Baling Karang “Jangan abaikan kami”.**

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: