Beranda > LAPORAN UTAMA > Hidup Dengan Tempe

Hidup Dengan Tempe

Oleh Khairul. A/Hamid

TukijahJemari Tukijah (39) warga Gedubang Jawa Kecamatan Langsa Kota, terlihat lincah memasukkan butiran kedelai kedalam bungkusan dedaunan pisang yang beralas lembaran koran bekas, rutinitas itu sudah dilakoninya sejak tiga tahun lalu, “Kerjaan bungkus tempe ini harus setiap hari pak…kalau tidak kita nggak bisa makan.” tuturnya saat Transparan mendatangi kediaman sekaligus tempat usaha ibu beranak 5 ini di gedubang Jawa, Minggu Pekan Lalu.

Sedikitnya, 40 Kg kedelai mentah harus diolah keluarga ini untuk dijadikan 150 bungkus tempe bungkus daun pisang yang dijual eceran seharga Rp.500,- perbungkus. Selain itu mereka juga memproduksi 300 tempe batangan dengan harga jual Rp.1.000 perbatang dan 800 bungkus dalam kemasan kecil dengan harga Rp.500 per 5 bungkus.

“Sepulang berjualan dipasar, biasanya saya belanja lagi bahan baku dan sedikit kebutuhan rumah tangga sehari-hari, baru sisanya ditabung untuk keperluan anak-anak sekolah,” lanjut Tukijah yang mengaku setiap hari, ia hanya dapat menyisihkan sedikit uang dari keuntungan usahanya yang bermodal hasil pinjaman.

Dengan modal pinjaman  sebesar Rp.1.000.000,- dari kenalannya, Tukijah dibantu 2 orang anaknya yang telah berusia dewasa, Aska Pradana (18) dan Sundari (17), memulai usaha industri pembuat tempe pada pertengahan tahun 2006, sementara ketiga anaknya lain, yang kini baru berusia antara 1,5 hingga 13 tahun hanya dapat membantu dengan memberi semangat berupa hiburan kepada ibu dan kedua kakaknya.

Sekilas cerita tentang kehidupannya dimasa lalu mulai dituturkan, “Tahun 2002 saya pindah dan bekerja sebagai karyawan buruh lepas di PT. Perkebunan Nusantara I (PTPN I Persero) Kebun Karang Inong, di Kecamatan Rantau Panjang Peureulak Aceh Timur. Sekian tahun kami berkerja ditambah dengan kondisi keamanan yang tidak menjamin saat itu, penghasilan menjadi buruh lepas mulai kami rasakan sudah tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makanya kami memutuskan untuk pulang ke Langsa.

Awalnya kami sempat bingung juga mau usaha apa, karena tidak punya modal cukup, semapat kami beberapa bulan hanya makan dari sisa gaji yang kami kumpulkan selama bekerja di PTP, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk kembali membuka usaha tempe seperti saudara-saudara saya. Dasarnya keluarga kami ini memang pengjarin usaha tempe pak…, Tapi, seperti yang saya katakan tadi, kami tidak punya modal untuk memulai usaha ini, sisa modal kami hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari yang saat itu juga mulai menipis, makanya kami berusaha mencari pinjaman modal.” Kisahnya  dengan nada malu-malu.

Cerita tentang kehidupannya saat masih menjadi karyawan buruh lepas PTPN-I Persero Kebun Karang Inong terus dituturkannya panjang lebar, sementara jari-jemarinya yang terlihat mulai dipenuhi sisa-sisa kedelai rebus yang tidak termuat dibungkusan yang akan dijadikan makanan tempe itu terus menari-nari lincah. Sesekali terdengar suara helaan nafas panjang keluar dari mulutnya, takkala, cerita itu sampai pada titik memilukan.

Kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Inilah yang dialami keluarga Tukijah, dengan modal Rp.1.000.000,- ia membangkitkan kembali keahlian yang diwariskan secara turun temurun itu untuk dijadikan bekal kelangsungan hidup keluarga.“Diantara keluarga saya, mungkin saya sendiri saja yang menginginkan mencoba pekerjaan lain, ya….seperti kemarin jadi karyawan buruh lepas PTP, walau saya tahu hasilnya nanti pas-pasan, sama seperti sekarang. Tetapi, mungkin ini yang dinamakan garis hidup, akhirnya saya kembali ke Langsa dan menjadi tukang tempe” lanjutnya tersenyum.

Jual sendiri

Dari hasil pembuatan dan penjualan tempe ini, Tukijah membangun sebuah rumah sederhana di atas tanah miliknya sendiri yang masih merupakan harta warisan peninggalan orang tuanya di Kampung Gedubang Jawa Kecamatan Langsa Baro, setelah hampir empat tahun lebih Tukijah menggeluti usaha industri tempe di rumah kontrakannya di Kampung Sidorejo.

“Setidaknya, saat ini kami tidak lagi harus berpikir untuk mencari-cari uang sewa kontrakan rumah, syukurlah…, sudah milik sendiri. Empat tahun menjadi karyawan buruh lepas, saya belum bisa membangun rumah, tapi sekarang, dengan usaha tempe ini saya bisa membangun.walau bentuk rumahnya masih sebegini ini pak….” terang Tukijah

Dengan modal pas-pas itu pulalah Tukijah belum berani mengambil karyawan untuk dipekerjakan membantu usahanya, termasuk dalam hal pemasaran. Ia lebih memilih untuk menjual sendiri hasil usahanya kepasar, meskipun ia harus bangun dinihari sebelum ayam berkokok dan tidur larut malam, karena hurus mempersiapkan dagangannya yang akan dijual ke pasar tradisional Langsa dipagi hari. Sehingga, menjadi wajar kalau raut wajah ibu dari 5 orang anak ini terlihat lebih tua dari usianya saat ini.

Menurutnya, dagangan tempenya setiap hari habis terjual, bahkan tidak jarang dirasakan masih kurang, karena masih saja ada pembeli yang mencari dagangannya disaat meja lapak yang disewanya tidak lagi menyisahkan bungkusan tempe.

Apa dikata, lanjut Tukijah kepada media ini, dengan modal kecil yang terus diputar untuk dijadikan modal usaha kembali dan sedikit disisakan bagi kebutuhan hidup sehari-hari, tentunya sulit untuk mengembangkan usahanya. “Namanya juga usaha dibangun dengan modal kecil, tentu hasilnya juga akan kecil. Kalau untuk sementara waktu ini, cukuplah untuk membiayai anak-anak sekolah.”

Membangun usaha dari nol, memang tidaklah mudah, butuh perjuangan panjang untuk memperoleh hasil maksimal. Meski Tukijah belum dapat memetik buah dari hasil jerih payahnya secara penuh, namun tidak dipungkiri bahwa kenikmatan dari usaha kecilnya dapat dimanfaatkan maksimal untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

“Kalau berhasil betul sih…belum pak, tapi setidaknya kami sudah dapat menikmati buah dari jerih payah, sekarang semua tergantung dari modalnya. Ada juga keinginan sih…untuk membesarkan usaha ini, tapi, semua tergantung dari modalnya, itu nantilah pak…pelan-pelan kita kumpulkan dari keuntungan yang ada.” kata Juriah yang mengaku belum pernah memperoleh bantuan penambahan modal usaha dari pihak manapun termasuk pemerintah daerah setempat.***

Iklan
Kategori:LAPORAN UTAMA Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: