Beranda > Religi > MELAKSANAKAN TUGAS DENGAN NIAT IBADAH

MELAKSANAKAN TUGAS DENGAN NIAT IBADAH

Oleh Drs. H. Zakaria AB, MM

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa tidak ada satupun perbuatan di dunia ini yang tidak bernilai ibadah, walaupun tugas atau perbuatan yang dikerjakan itu bukan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa dan lain-lain tetapi harus dikerjakan dalam rangka pengabdian, ketaatan dan ketulusan diri kepada Allah SWT semata.  Dari sinilah ajaran Islam merupakan ajaran yang berada dalam posisi tengah, tidak cenderung kepada materialisme yang mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual tetapi tidak juga kepada spiritualisme murni yang mengabaikan hal-hal yang bersifat material.  Oleh karena itu jembatan semua ini diperlukan niat dalam hati agar semua yang dikerjakan mendapat pahala disisi Allah SWT. Berkenaan dengan ini Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya yang artinya :

’Sesungguhnya semua jenis pekerjaan disertai dengan niat dan bagi tiap orang akan memperoleh hasil sesuai dengan apa yang diniatkannya.  Maka barang siapa yang hijrahnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah SWT  dan Rasul-Nya, maka niscaya hijrahnya itu tetap kepada Allah SWT  dan Rasul-Nya (akan mendapatkan pahala yang setimpal dari-Nya). Barang siapa yang berhijrah untuk memperoleh hasil duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, maka hasil hijrahnya itu adalah apa yang menjadi tujuannya’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits diatas mengisyaratkan bahwa perbuatan bergantung pada niat dan setiap manusia mendapatkan apa yang diniatkannya.  Hal itu sebagai sebuah pertimbangan bahwa perbuatan membutuhkan niat agar menjadi baik atau buruk kendati perbuatan tidak selalu mewujud karena terhalang oleh faktor tertentu.  Bahkan terkadang sebuah perbuatan memuliki hukum yang berbeda, apakah ia murni baik ataukah tercampur dengan kejahatan.  Seorang laki-laki yang berperang karena dunia atau karena fanatisme sempit, semua itu menghilangkan nilai jihad sebab lenyapnya keikhlasan perbuatan untuk Allah SWT .  Tiada ketaatan betapapun besarnya yang tidak terhapus selama dimasuki unsur riya’. dan bisikan apapun yang membujuk jiwa untuk melakukan perbuatan selain demi keridhaan Allah SWT  akan mengeluarkan perbuatan itu dari keikhlasan.

Jadi, ketaatan dalam penentuan keabsahan dan penggandaan keutamaanya terkait erat dengan niat, yaitu ketika seorang berniat melakukan ketaatan itu demi mengharap ridha Allah SWT .  Jika ia bermaksud riya’, maka ketaatan itu menjadi kemaksiatan, karena riya’ merupakan hawa nafsu yang terselubung.  Selain karena riya’ merupakan sebagian dari gejala kemusyrikan yang memandang bahwa perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan ditujukan dan dimaksudkan untuk selain Allah SWT. Demikianlah pula, membesar dan mengecilnya nilai  suatu perbuatan baik bergantung pada niat, dan sebaliknya, berapa banyak perbuatan besar yang menjadi kecil karena niat.  Berdasarkan hal ini, tidak ada perbuatan tanpa niat.

Islam tidak memandang remeh kedudukan niat dalam setiap perbuatan seseorang jika memang perbuatan yang dilakukan seseorang tersebut mengandung niat tulus dan baik yang mendasarinya (Lillahi Ta’ala), maka Allah SWT  akan mencatatnya sebagai kebaikan bagi dirinya.  Namun sebaliknya jika motif yang mendasari tindakan seseorang tersebut penuh dengan keburukan dan kejahatan, maka ia akan mendapat apa yang ia niatkan tersebut.

Oleh sebab itu, dalam setiap menjalankan tugas apapun seseorang muslim sudah seharusnya memperbaiki dan memantapkan niat yang terbetik dalam hatinya terlebih dahulu.  Jika niat yang muncul adalah untuk selain Allah SWT , misalnya untuk membuat senang atasan, melakukan pekerjaan / tugas kantor bila ada uang tambahanan, ingin mendapat pujian orang lain dan sebagainya, sehingga cenderung kepada riya’ dan sum’ah maka niat tersebut perlu secepatnya dikembalikan kepada niat yang tulus karena Allah SWT .  Bahwa seseorang berbuat kebaikan dalam segala hal baik pekerjaan kantor maupun selainnya adalah untuk membuat puas sesama manusia adalah benar, namun hal sedemikian rupa akan menjadi tidak benar jika memang itu yang menjadi tujuan akhir baginya.**

(Majelis Syura Forum Penegak Syariat Islam (FPSI) Kota Langsa / Kepala Dinas Syari’at Islam Kota Langsa)

Iklan
Kategori:Religi Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: