Beranda > Budidaya > Potensi Udang Vaname Masih Menjanjikan

Potensi Udang Vaname Masih Menjanjikan

UD1 Potensi pertambakan udang Windu (Penaeus monodon) awalnya memang menjanjikan, khususnya bagi para petambak di kawasan Pantai Timur Aceh, karena, selain bibit udang (benur) yang baik masih mudah didapat, harga jual udang dewasa juga cukup tinggi. Namun beberapa tahun belakangan, akibat turunnya harga jual dan sulitnya mendapatkan benur yang baik, membuat para petambak dikawasan itu kesulitan membangun kembali usaha pertambakan udang.

Faktor lain yang juga mempengaruhi tidak bangkitnya usaha pertambakan udang ini kususnya di Aceh, tidak terlepas dari konflik bersenjata yang berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan aktifitas pertambakan menjadi terganggu.

Memang, tidak seluruh pertambakan mati total, masih ada satu atau dua pertambakan yang tetap beroperasi, namun, hasil yang diperolehpun masih belum memadai.”Kalau sekarang kita sulit mencari benur udang Windu yang bagus, harganya juga sekarang jauh menurun, jadi kita lebih baik memilih udang dari jenis lain untuk diisi ditambak.” kata Mahdi (42) seorang teknisi yang bekerja disalah satu pertambakan udang  di Kota Langsa.

Menurut dia, mengelola pertambakan udang bisa dikatakan gampang-gampang susah, alasannyapun cukup sederhana, selain perlu perawatan serius juga dibutuhkan modal yang cukup memadai. “Kalau ingin hasilnya bagus, kita harus berani berkorban.” lanjutnya.

Mahdi menggeluti usaha pertambakan udang lebih dari 20 tahunan lamanya, meski ia juga merupakan bahagian dari pemilik tambak, namun ia lebih memfokuskan diri dalam hal teknik perawatan dan pengembangan pertambakan udang.

“Syukur Alhamdulillah, masa konflik lalu kami kurang merasakan dampaknya, mungkin karena kami berada dilingkungan perkotaan, meski sedikit dekat dengan daerah laut, namun tetap saja hawanya perkotaan.” tutur Mahdi.UD2

Pada awalnya usaha yang dirintisnya bersama seorang kolega dari luar Kota Langsa ini, sama seperti pertambakan lain, melakukan budidaya pertambakan udang Tiger, namun, akibat sulit memperoleh benur yang baik, maka pertambakan itupun  memulai melakukan budidaya pertambakan udang jenis Vaname (Litopenaeus vaname), yang didapat dari salah satu perusahaan budidaya udang di Sumatera Utara, “Memang harganya tidak semahal harga udang Tiger, tetapi dengan kondisi seperti sekarang ini, kita lebih mendapatkan keuntungan dari udang jenis ini.”

Alasan yang dikemukakanpun cukup sederhana, yakni terkait dengan bibit udang (benur) yang sulit didapat. “Kalau dulu, kita sangat gampang mendapatkan benur udang Tiger, tapi sekarang cukup sulit, kalau adapun, kita masih meragukan kualitasnya, karena, kalau benurnya tidak bagus maka hasil panen kita juga akan tidak memuaskan, bahkan bisa-bisa kita mengalami kerugian karena bibitnya tidak sehat dan resiko kematian udang sebelum cukup umur pun sangat tinggi.”

Tak hanya faktor, benur yang baik untuk menentukan keberhasilan usaha pertambakan udang ini, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah tentang perawaatan, atau tekhik pemeliharaan. Dengan pola pemeliharaan dan perawatan yang insentif maka dapat diyakini pencapaian target keuntungan usaha dapat dimaksimalkan.

Berangkat dari pengalaman, budidaya udang Vaname, tidak jauh beda dengan udang windu maupun jenis udang lainnya. “Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjaga stabilitas air didalam tambak.

Udang Vaname ini sendiri tergolong udang yang mudah dibudidayakan, karena ia sangat toleran dengan kondisi kepadatan air, namun demikian ada baiknya kita tetap bisa menjaga stabilitas kepadatan air.” jelas Mahdi

Dari segi pakannya, justeru jenis udang ini jauh lebih murah bila dibandingkan dengan pakan yang disediakan untuk udang Windu. Murah bukan berarti berbeda jenis pakannya, akan tetapi dari jumlah pemakaiannya. Udang vaname membutuhkan pakan dengan kandungan protein 25-30%,  lebih rendah ketimbang udang windu. Di samping itu pertumbuhan yang lebih cepat dan sintasan yang lebih tinggi, maka biaya produksi udang vaname  lebih rendah hingga mencapai 25-30% ketimbang biaya produksi udang windu.

Meski dikatakan biaya produksi udang vaname lebih rendah, namun tetap saja budidaya udang ini, masih belum dapat diterapkan untuk pertambakan tradisional, dengan alasan umumnya budidaya vaname di tambak menggunakan teknologi intensif sebagai  akibat padat tebar yang tinggi, dimana bisa mencapai 100 – 300 ekor/m2. Hal itu pula yang pandang sebagai penyebab meningkatnya biaya untuk konstruksi, pakan dan sarana lainnya.

Oleh karena itu, umunya budidaya vaname ini cenderung hanya bisa dilaksanakan oleh pengusaha atau petambak kelas menengah ke atas. Sedangkan petambak kecil hampir tidak ada yang memproduksi udang vaname dikarenakan belum adanya teknologi sederhana yang terjangkau kemampuan dan dapat diterapkan oleh petambak tradisonal.

Untuk menghidari terjangkitnya benih udang maupun udang yang sedang dibudidayakan oleh berbagai penyakit, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti halnya air, dimana air yang akan dimasukkan ketambak pembudidayaan, haruslah air yang telah diperbaiki kualitasnya melalui petak pengendapan dan biofilter. Hal ini berfungsi untuk mencegah masuknya ikan-ikan liar yang memiliki kecenderungan membawa penyakit.

Sedangkan untuk menumbuhkan plankton dalam tambak yang sudah dikeringkan, sebelum proses pengisian dan penaburan benur, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik (urea dan TSP). Kemudidan dilakukan aplikasi probiotik jenis Bacillus sp dengan dosis 1 liter/petak.

Langkah awal ini dipandang perlu untuk dilakukan agar budidaya pertambakan udang vaname dapat menghasilkan sesuai dengan harapan.

Langkah-langkah lain yang masih perlu diperhatikan setelah pengisian tambak dengan benur adalah dengan melakukan pengawasan secara intensif terhadap kepadatan air, ”Logikanya, bila air terlalu padat maka dengan sendirinya oksigen didalam air juga akan berkurang, makanya tambak insentif umumnya mengunakan kincir untuk melakukan sirkulasi udara di air dalam tambak.”

Kemudian lanjutnya, Selama pemeliharaan juga dilakukan pengelolaan air yang tergantung dari fluktuasi parameter air seperti bahan organik, amoniak, nitrit, oksigen terlarut, pH dan plankton.

Selain kegiatan yang dilakukan dalam manajemen air meliputi pergantian air, pengapuran, pengenceran air serta aplikasi ikan biofilter dan bioscreening

“Tapi semua itu tidak akan pernah berarti apa-apa, bila mana kita kurang atau tidak memberi perhatian lebih terhadap mereka yang menjadi pekerja, terutama mereka yang secara terus menerus berada di arela pertambakan, seperti mereka yang menjadi penjaga tambak,” ujanya.

Nah…bagi dia, mungkin juga koleganya, memberi kebebasan dan perhatian kepada karyawan yang menjadi penjaga tambak merupakan modal dasar untuk meraih kesuksesan dalam usaha yang dikeluti puluhan tahun ini, selain dibutuhkan modal cukup dan kepiawian dalam mengelola suatu pertambakan. “Dibilang susah tidak, dibilang mudah juga tidak, yang terpenting adalah tekad untuk meraih keuntungan maksimal, maka disinilah kita membutuhan modal cukup, baik itu dalam bentu materi maupun mental.” tandas Mahdi.[khairul.A/Hamid]

Iklan
Kategori:Budidaya Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: