Beranda > JEJAK > Masjid Raya Darul Falah Kota Langsa

Masjid Raya Darul Falah Kota Langsa

MasjidMalam begitu indah, ketika anak-anak remaja dengan wajah ceria sambil mendekap kitab suci jalan bersusul-susulan meninggalkan halaman Masjid Raya Darul Falah. Suasana seperti itu yang terlihat saat Transparan memasuki teras masjid untuk menemui Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Darul Falah, H. M Nur Daud. ‘Setiap malam habis Sholat Maghrib dan Isya’ ada pengajian rutin untuk anak-anak remaja putra dan putri pak’, katanya setelah menjawab salam.

Bangunan bertingkat Masjid Raya Darul Falah, yang berada tepat di jantung Kota Langsa, berdiri megah diatas tanah yang berukuran 45 x 45 meter. ‘Awal berdirinya tidak seluas dan semegah ini pak’, ungkapnya memulai cerita.  Tahun 1942, para pedagang di Pasar Langsa, berinisiatif  mendirikan meunasah yang berdinding kayu berukuran 8 x 8 meter. Inisiatif itu muncul disebabkan lokasi masjid jaraknya terlampau jauh dan para pedagang pasar apabila mau sholat berjamaah harus meninggalkan dagangannya dalam waktu yang cukup lama.

Setelah berdirinya meunasah di dekat pasar, para pedagang mulai merasa bahwa mereka harus menempuh jarak yang jauh, apabila mau melaksanakan sholat Jumat. ‘Meunasah itu hanya untuk sholat fardhu berjamaah pak, kalau mau Jumatan para pedagang harus sholat ke masjid di Gampong Teungoh’, jelas H.M Nur Daud, yang akrab disapa H Nurhaida. Banyaknya jumlah pedagang di pasar ini menjadi pertimbangan agar meunasah dapat digunakan untuk Sholat Jum’at juga, sehingga meunasah perlu diperluas bangunannya menjadi 16 x 16 M dan diberi nama Masjid Yong Kong Fu. ‘Itu dilakukan pada masa Jepang pak, sekitar tahun 1948, dindingnya juga masih dari kayu, tetapi sudah mempunyai 8 buah kubah,”tambahnya”.

Selama kurun waktu 16 tahun, masjid ini tidak pernah dilakukan perubahan, baru pada tahun 1964, pada masa Bupati Nurdin, nama masjid dirubah menjadi Masjid Raya Darul Falah. Lalu tahun 1972 sampai dengan tahun 1974, bangunan masjid mulai dibuat permanen. ‘Itu pun hanya lantai dan 4 tiang besar yang berada ditengah-tengah pak’, sambung anggota DPRK Langsa yang bulan ini akan mengakhiri masa jabatannya.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid yang saat itu dipegang oleh H Ismail Arco berupaya agar pembuatan bangunan permanen Masjid Raya Darul Falah cepat terselesaikan.  Dengan bantuan berbagai pihak termasuk dari bupati Zainudin Marz, pada tahun 1983 bangunan masjid permanen dengan satu menara telah dapat diselesaikan. ‘bahkan diresmikan oleh Menteri Agama Munawir Sazali’, kenang pria paruh baya yang sudah terlibat dalam panitia pembangunan masjid sejak tahun 1976 ini.

Penambahan bangunan yang saat ini digunakan untuk ruang sekolah Diniyah dan aula dikerjakan pada masa Bupati M Nuh AR, sekitar tahun 1987. Ridwan yang saat itu menjabat Ketua Panitia Pembangunan dengan dibantu pelaksana pembangunan, H. M Nur Daud, melakukan penambahan bangunan untuk aula masjid agar dapat digunakan sebagai tempat pengajian para ibu-ibu. ‘menurutnya, Kasihan ibu-ibu, ingin ikut pengajian tapi sedang  dapat halangan, khan tidak boleh masuk masjid, jadi terpaksa mereka duduk di pinggir pagar, solusinya ya… dibuatkan aula’, jelasnya.

Selama beberapa kali pergantian ketua BKM, bangunan sekitar masjid banyak mengalami penambahan, diantaranya penambahan menara, tempat wudlu, pagar, parkir sepeda motor dan mobil. Dana berasal dari sumbangan para dermawan dan usaha yang dimiliki BKM berupa tempat penitipan sepeda motor serta bidang jasa lainnya ‘Pemerintah daerah setempat juga mengalokasikan dana untuk pembangunan dan perawatan masjid’, kata Ketua BKM yang menjabat sejak tahun 2006 ini.

Sekolah Diniyah Masjid Raya Darul Falah saat ini memiliki 486 orang murid dengan tenaga pengajar 24 orang. Kegiatan pengajian rutin yang dilakukan setiap hari selesai Sholat Maghrib dan Isya’ diikuti oleh anak-anak remaja. Bagi remaja putri yang mengajar Aminah dan Rohana, sedangkan remaja putra oleh H Ismail. Pengajian bagi kelompok dewasa dan orang tua untuk mendalami tauhid, tafsir, fiqh dan lainnya dilaksanakan hampir setiap hari setelah Sholat Maghrib dan Isya’. Ustadz yang mengisi adalah Syeh Muhajir, Lc, MSi, Tgk Mardani, Tgk Abdullah dan Tgk Sulaiman Gapa. Pengajian rutin mingguan dijadwalkan tiap hari Minggu setelah sholat Dzuhur yang diisi oleh Tgk Muhammad Nur. Pengajian bulanan dilakukan tiap tanggal 7 dan hari Sabtu terakhir setiap bulan yang diisi oleh Tgk Mustafa Puteh. ‘Pengajian dalam rangka peringatan hari besar Islam juga rutin diadakan pak, yang dengan mengundang ustadz dari Aceh sendiri ataupun dari Medan’, sambungnya.

H. M Nur Daud menambahkan bahwa Imam Masjid Raya saat ini ada sepuluh orang, Imam yang dituakan adalah Syeh Muhajir Lc, MSi, sedangkan Khatib Tgk Sulaiman Umar. ‘Alhamdulillah pak, saat ini bangunan masjid raya sudah terlihat megah, apalagi bila bangunan menara di sebelah kiri yang saat ini sedang dibangun telah selesai’, ucapnya sambil mengakhiri perbincangan. Wassalam. [Hamid]

Iklan
Kategori:JEJAK Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: