Beranda > Sosok > Berawal dari Kolding

Berawal dari Kolding

yan“Orang bisa kenapa kita tidak,” itulah ucapan pertama yang dilontarkan pria kelahiran tahun 1959 ini kepada Transparan saat mencari tahu tentang rahasia kesuksesannya dalam mengelola perusahaan.

Namanya Sofyan, namun orang lebih mengenalnya dengan sebutan “pak Yan Pakeh”. Langkahnya begitu pasti ketika menghapiri media ini yang telah menunggu di ruang tamu Show room sepeda motor miliknya di bilangan jalan protokol A.Yani Kota Langsa.

Bagi warga Kota Langsa, tentunya tidak asing mendengar nama itu, meskipun, ada pengakuan yang menyatakan “belum pernah tahu persis orangnya, tetapi namanya sudah sangat kami kenal.” Ya…mungkin saja mereka bukan penduduk asli Kota Langsa, sehingga menjadi wajar kalau mereka tidak mengenal sosok “Yan Pakeh”, yang memulai usahanya dari berdagang kolak dingin (kolding) di Peureulak Kabupaten Aceh Timur pada era tahun 80-an.

“Sebenarnya saya mulai berjualan sejak masih SD,” katanya memulai pembincangan diruang tamu pagi Selasa pekan lalu. Kemudian lanjutnya, saat itu ia berjualan apa saja yang dianggapnya dapat dijadikan uang.

Menghilangkan rasa malu untuk mendapatkan uang menjadi motifasi yang paling kuat saat itu, ditambah dengan tekad yang bulat untuk meraih apa yang diinginkan. “Pemikiran saya saat itu sangat sederhana, apa yang dapat saya lakukan untuk menghasilkan uang, makanya saya berusaha untuk berjualan, ya…anggap saja, saya sedang belajar kerja.” ungkapnya.

Belajar dari pahitnya perjalanan hidup dimasa kecil, disaat usianya memasuki 30 tahunan, dengan modal pas-pasan, Sofyan mulai membangun usahanya yang dimulai dari berjualan kolak dingin disalah satu sudut Kota Peureulak.

“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit usaha kami berkembang. Kalau keinginan untuk mengembangkan usaha agar lebih maju, itu sudah pasti ada dong…, namanya juga manusia, tetapi, bukan semata-mata hanya untuk memperkaya diri, bagi saya lebih kepada keinginan untuk membahagiakan keluarga, setidaknya anak-anak saya tidak ikut merasakan, apa yang saya rasakan dimasa kecil dulu., ya….namanya juga orang tua, mana ada orang tua yang ingin melihat anaknya susah.” mengenang masa lalu.

Berbekal hasil keuntungan berjualan kolding, di-ramu sedikit keberanian, jual beli sepeda motor bekaspun dilakoni, sebagai bentuk pendampingan usaha kolding yang digeluti selama hampir tiga tahunan.

Tak hanya sampai disitu, usaha barunyapun menghantarkan sebuah pengalaman baru.”Usaha kolding kami tetap saja berjalan sebagaimana adanya, meskipun kami sudah mulai agak terfokus dengan usaha jual beli sepeda motor, maklumlah, dari situ saya menjadi banyak teman dan berkenalan dengan orang-orang diperusahaan.” kisahnya.

Lalu, dari situlah saya mulai coba untuk menjadi kontraktor, awalnya sih…saya belajar juga, tidak langsung begitu terjun, langsung jadi kontraktor atau dapat orderan, saya ikuti dulu teman-teman saya yang sudah lama berkecimpung didunia usaha sejenis ini.

Bagi Sofyan, tidaklah begitu sulit untuk belajar bagaimana menjadi seorang kontraktor, karena tekad yang ditanamnya sejak kecil tetap terpatri direlung jiwanya yang paling dalam. “Segala sesuatunya harus dimulai dengan niat, kemudian baru kita merealisasikannya dengan usaha, serta diiringi dengan do’a, usahapun tidak akan pernah berhasil kalau kita tidak menjalankannya dengan keseriusan, jadi ini menjadi satu komponen yang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Tanpa niat kita tidak tahu harus berbuat apa, tanpa usaha keras tentu tidak akan membuahkan hasil yang memadai, dan tanpa do’a, segala yang kita lakukan tidak akan pernah memiliki arti apa-apa,” petuahnya.

Sederhana itukah kiat untuk meraih sebuah kesuksesan ?, tentu saja, jawabannya adalah tidak !. Sofyan harus tetap berjuang untuk meraih apa yang menjadi angan-angannya, sehingga ia rela mondar-mandir dan sedikit berlaku “tebal muka” hanya untuk mendapatkan selah satu paket pekerjaan dari sebuah perusahaan besar yang berada di Ranto Panjang Pereulak masa itu.

“Wah…namanya juga kita minta kerjaan sama orang, jadi kita harus sabar, kalau dikasih ya…syukur, kalau tidak mau bilang apa, tapi kita kan… perlu untuk terus berusaha, tidak harus cepat menyerah apa lagi pasrah.” lanjut Sofyan.

Entah perusahaan meragukan kemampuan Sofyan, atau memang saat itu lagi tidak butuh rekanan baru, sehingga penolakan demi penolakan selalu diterimanya, sampai-sampai Sofyan sendiri lupa berapa kali penolakan itu terjadi.

Akan tetapi, sifatnya yang tak pernah mau menyerah dengan suatu keadaan disamping tetap terus berusaha, upaya Sofyan untuk mendapatkan order pekerjaan dari perusahaan ahkirnya membuahkan hasil. “Pertama sekali saya mendapat pekerjaan dari perusahaan berupa pengadaan barang, memang untungnya tidak seberapa besar, namun demikian tetap saja saya bersyukur, karena perusahaan mulai mempercayakan saya sebagai rekanan perusahaan.

Disinilah saya mulai bangkit, dan itu semua berkat ridho Allah SWT, serta dukungan keluarga dan teman-teman yang terus memberi semangat serta harapan kemasa depan. Dan saya bisa menjadi seperti sekarang ini juga tidak terlepas dari bantuan teman-teman, makanya saya sering menekankan kepada anak-anak saya untuk bergaul dan mencari teman sebanyak mungkin, lagian enak kok…kalau kita banyakk teman, apa lagi kalau teman kita itu mengerti dengan keadaan kita.

Setelah memperoleh kepercayaan dari pihak perusahaan, Sofyanpun mulai bangkit, satu persatu dari berbagai jenis usahanya mulai menuai hasil, hingga akhirnya iapun memutuskan untuk lebih berkonsentrasi dalam bidang leversir, kontraktor. Namun demikian, kegiatan jual beli sepeda motor tetap saja dilakoni, bukan hanya kerena memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar dari usaha kolding, akan tetapi lebih kepada besarnya kepercayaan masyarakat terhadap usaha yang menjadi icon bisnisnya.

Perjuangan Sofyan dalam meraih kesuksesan dalam mengelola berbagai macan jenis usaha tidak terlepas dari apa yang dinamakan, kesabaran, ketekunan, keihklasan, serta kemauan. “Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan”.

“Kalau mau jadi kontraktor ada tiga faktor yang harus dijalankan, pertama harus sabar, terus kita harus bermuka tebal, kemudian telinga harus tipis, jadi kita jangan cepat marah kalau datang terus tidak dikasih pekerjaan, namanya juga kita ini mengemis, tapi, ya…pengemis kerjaan, jangan baru sekali datang terus minta kerjaan, tetapi tidak diberikan lalu marah-marah, bukan begitu, makanya jadi kontraktor itu harus sabar.” katanya sembari mempertontonkan senyum yang dihiasi sederetan gigi putih yang tertata rapi.

Menurut dia, satu-satunya kiat sukses yang dapat dipertahankan dan saat ini pula yang dilakoninya, adalah tetap berlaku rendah hati.

“Nah…kalau sudah sukses, kita juga jangan terlalu menganggap diri telah jadi bos atau toke, kita harus dapat menyesuaikan diri, jadikanlah diri kita dilingkungan pekerjaan kita sendiri, sebagai orang yang dituakan atau yang dijadikan panutan oleh bawahan kita, dengan demikian mereka menghargai kita tidak hanya sebatas pemilik atau toke dengan anak buah, tetapi lebih kepada hubungan anak dengan orang tua.” pesannya.

Dan..satu hal lagi petuah yang dianjurkan Sofyan, selalulah yakin dengan apa yang menjadi usaha itu, karena tanpa keyakinan, “Percayalah apapun jenis usaha yang kita kerjakan tidak akan pernah membuahkan hasil.”. coba saja ….!

Diusianya yang telah mencapai setengah abad ini, Sofyan, masih tetap memotori sejumlah perusahaan yang pernah dibangun sebelumnya, seperti halnya usaha jual beli sepeda motor, yang kini telah beralih menjadi sebuah show room sekaligus dealer terkemuka sepeda motor jenis Yamaha di Kota Langsa, sementara, usaha kolak dingin (kolding) nya, tak lagi dijalankan, dengan alasan waktu lebih tersita untuk menjalankan usaha lain yang sedang dikembangkan.

“Dengan usaha yang ada saat ini, saya merasa sudah cukup, untuk apa kita tambah lagi usaha kita kalau ujung-ujungnya kita sendiri yang susah. Setidaknya menambah beban pikiran kita saja, karena harus berpikir untuk mengembangkan usaha baru itu.” paparnya mengakhiri perbincangan jelang siang itu.*** [Khairul.A / Hamid]

Iklan
Kategori:Sosok Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: