Beranda > Daerah > Irigasi Hancur, Tanaman Padi Terancam

Irigasi Hancur, Tanaman Padi Terancam

Irigasi Rusak

Irigasi Rusak

ACEH TAMIANG, Transparan- Sungguh malang nasib para petani di Kampung Benteng Anyer Kecamatan Mayak Payed Kabupaten Aceh Tamiang,  dimana sedikitnya 1.500 ha taman padi milik warga setempat terancam gagal panen, akibat irigasi yang pernah dibangun beberap waktu lalu tidak pernah  difungsikan, bahkan irigasi tersebut saat ini mengalami kerusakan parah.

Mantan Datok Penghulu Kampung Benteng Anyar, Sudarmin, kepada Transparan, Rabu pekan lalu menyayangkan sikap pemerintah daerah yang terkesan kurang perduli dengan nasib para petani didaerah tersebut. “Memang kami tidak mengetahui siapa pelaksana atau dari mana proyek ini, ya…namanya juga kami masyarakat awam, sudah ada yang mau membangun dan memperhatikan desa kami saja sudah bersyukur, apa lagi tujuan utama untuk mensejahterakan kami para petani, tetapi bukan kegiatan seperti ini yang diinginkan masyarakat.” katanya sembari menyesalkan pembangunan irigasi yang tidak dapat dipergunakan untuk mengairi persawahan mereka.

Menurut Sudarmin, pembangunan irigasi ini dikerjakan pada tahun 2006 lalu, dengan panjang irigasi mencapai 500 meter. “Kapan waktu pembangunan itu saya kurang tahu, karena mereka (pelaksana-red) sendiri tidak pernah melakukan kordinasi dengan kita di kampung, bahkan, kamipun tidak mengerti apakah proyek ini sudah selesai atau belum, kerena sampai sekarang tidak pernah ada serah terima hasil kerjaan atau pemberitahuan kepada pihak desa.” jelasnya.

Dari pengakuan sejumlah petani yang ditemui mengatakan, untuk mengairi sawah mereka terkadang harus melakukan pemompaan air dari anak sungai dengan mengunakan mesin pompa berkapasitas kecil. “Umumnya kami menunggu musim penghujan untuk turun kesawah, tetapi terkadang kami juga melakukan penanaman diluar musim tanam,” kata Ngatiman warga setempat.

Selain saluran irigasi yang belum pernah difungsikan, mesin pompa yang disediakanpun tidak pernah dioperasikan, “Kita pernah mencoba untuk mengoperasikan pompa itu, tetapi setelah dihidupkan ternyata tidak ada setetes airpun yang dapat disedot dari sungai, entah apa sebabnya.” lanjut Sudarmin.

Dikatakannya juga, dana untuk membangun saluran irigasi berikut rumah pompa dan mesin pompa mencapai Rp146.000.000.- tetapi manfaat yang diperoleh dari itu hingga kini belum pernah dirasakan.

“Kalau tidak ada melapor sama sekali, saya kira tidak benar juga sih…, tetapi itupun dilakukan setelah kami dari pihak kampung mendatangi pimpronya, dari situ kami mengetahui berapa besaran dana dan untuk kegiatan apa saja, dan itu semua tercatat dalam buku kegiatan penerimaan bantuan milik kampung.” paparnya.

Meski kejadian ini sudah pernah dilaporkan baik kepada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Aceh Tamiang, maupun kepada Wakil Bupati Aceh Tamiang namun hingga kini belum mendapatkan respon positif.

“Ya…kita berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan keadaan masyarakat, terutama para petani kecil seperti kami ini, setidaknya pemerintah merespon apa yang menjadi keluhan warganya.” pinta Sudarmin yang diaminkan sejumlah warga yang turut hadir. (TR13/TW14)

Iklan
Kategori:Daerah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: