Beranda > Sosok > Nurcahaya Penerang Keluarga

Nurcahaya Penerang Keluarga

nur“Salak bang…”, sapa seorang ibu muda pedagang buah salak disalak satu pojok ruas jalan menuju kawasan wisata Ketambe dan Lawe Ger-ger sesaat Transparan melewati kawasan itu pekan lalu.

Memang kawasan ini khusus dijadikan tempat berjualan buah salak. Senjang jalan yang dilalui pada kawasan itu berdiri pondok-pondok kecil berukuran 2 X 2 meter yang terbuat dari dari pohon bambu serta dihiasi ornamen atap tikar plastik dan daun rumbia yang mulai terlihat lusuh.

Rasa penat diiringi rasa kegerahan akibat tersengat teriknya matahari, setelah menempuh perjalanan beberapa puluh kilometer, menghantarkan media ini untuk mencoba melepaskan ketegangan otot, sembari muncul keinginan untuk membeli sekilo dua kilo buah salak, dan, sebelum tawar-menawar harga terjadi, perbincangan kecilpun berlangsung beberapa saat.

Nurcahaya, demikian nama ibu muda kelahiran Kotacane, 7 Juni 1987, yang kini hanya hidup bersama seorang anak laki-lakinya yang masih berusia balita serta ditemani ibu dan 4 orang  adiknya di Dusun Proyek Kecamatan Badar.

“ Saat ini sayalah yang menjadi tulang punggung keluarga, sejak bapak (orang tua laki-laki Nusrcahaya-red) meninggal dunia dua tahun silam.” tuturnya memulai perbincangan.

Masih dari pengakuannya, ternyata ia mencari nafkah tidak hanya untuk membiayai anak, dan adiknya yang sebahagian masih bersekolah itu saja serta ibunya yang mulai renta, tetapi ia juga mencari nafkah untuk membiayai kuliahnya, maklum, selain berdagang buah salak, ia juga menjadi guru bakti di SD Negeri Natam sehingga dianggap penting untuk menempuh pendidikan lebih lanjut di Fakultas Ekonomi Perguran Tinggi Gunung Leuser, “Alhamdulillah sekarang saya sudah disemester empat bang,” sebutnya.

Untuk aktifitas sehari-hari dapat diatur, lanjut Nurcahaya, di pagi hari sekitar pukul 8.00 wib hingga pukul 12.00 siang, dia menjadi pedangang buah salak.

Usai berjualan, sekira pukul 13.00 siang dia pun berangkat kuliah kekampus PT-GL Babussalam yang berjarak sekitar 10 km dari kediamannya.”setidaknya sepuluh ribu lah habis untuk ongkos kekampus.” terangnya.

Dari hasil berjualan salak, Nurcahaya dapat mengantongi uang antar Rp.300.000, hingga Rp.400.000, per-minggu.

Ternyata, tidak hanya berperan sebagai pedangang buah salak dan menjadi guru SD saja, Nurcahaya ternyata juga pernah menjadi wartawati radio CBS Aceh Tenggara. “wah…ini jeruk makan jeruk namanya,” kelakar media ini setelah mengetahui apa saja yang menjadi kegiatannya untuk meraih sebuah pengharapan, membesarkan sibuah hati, membantu keluarga dan menjaga ibunya.

“Karena saya hanya sebagai guru bakti, jadi ngajarnya dua kali seminggu”, kata Nurcahaya yang mengaku telah mengajar di SDN Natam Kecamatan Bandar sejak tahun 2006 lalu, namun belum pernah merasakan manisnya yang namanya gaji seperti manisnya buah salak yang diperdagangkannya.

“Jadwal waktu bagi Nurcahaya, semua sudah saya atur katanya, bila disaat kuliah, mengajar atau meliput berita dagangan salak saya tutup, sebab adik-adik saya empat orang laki-laki, bahkan ada yang juga kuliah, sementara ibu saya mengerjakan kebun salak sekitar setengah hektar dan kebun jagung untuk tambahan menghidupi keluarga kami” sebutnya

Walaupun penghasilan Nurcahaya masih tergolong kecil dan belum dapat disebut memadai, namun ia tetap bersyukur karena masih diberkan kemurahan rezki oleh Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Dengan sedikit bekal buah salak yang sempat terbeli, setelah berpamitan, media inipun kembali melanjutkan perjalanan pulang, sementara disaku jaket didalam lembaran kertas putih, telah tercatat sebuah judul pemberitaan “Nurcahaya Penerang Keluarga”.***[Sumarno Selian]

Iklan
Kategori:Sosok Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: