Beranda > Daerah > Pemda Aceh Tamiang Legalkan Usaha Ilegal ?

Pemda Aceh Tamiang Legalkan Usaha Ilegal ?

Pengakaran walet di tengah prkotaan Kualasimpang 2ACEH TAMIANG, Transparan- Tiap-tiap kegiatan usaha seharusnya memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah atau yang biasa dikenal dengan sebutan surat izin usaha.

Surat izin usaha ini merupakan landasan sebagai dasar pemungutan pajak atau retribusi daerah yang dilakukan pemerintah setempat guna memperoleh masukan daerah berupa PAD. Agar lebih mengarah kepada legalitas suatu kegiatan usaha yang dilakukan pemiliknya. Terlebih lagi, apabila usaha yang dijalankan memiliki tempat khusus seperti ruko (rumah toko) atau tempat lainnya yang dijadikan tempat usaha, maka sangat dibutuhkan surat izin usaha tersebut. Kalau tidak ingin usahanya disebut sebagai usaha ilegal yang melanggar hukum.

Ironis, yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, puluhan ruko di kawasan Kota Kuala Simpang, dijadikan sebagai tempat penangkaran sarang burung walet dimulai dari lantai dua hingga selanjutnya, digunakan sebagai tempat kegiatan usaha penangkaran sarang burung walet, yang diduga ilegal, artinya tak satupun dari penangkaran tersebut memiliki surat izin usaha.

Anehnya, meski tidak memiliki izin, tapi, pembangunan penangkaran sarang burung walet di tengah pemukiman penduduk Kota Kuala Simpang, tetap saja terjadi. Bahkan beberapa tahun belakang, kegiatan ini justru  semakin marak terjadi.

“Sehingga fungsinya qanun yang dibuat pemerintah daerah terkesan diabaikan, toh…. penangkaran sarang burung walet di Kota Kuala Simpang tetap terus marak, tanpa adanya penertibkan pihak terkait.” kata, Wakil Ketua KNPI Kabupaten Aceh Tamiang Syafruddin, Kamis pekan lalu.

Tudingan terhadap Pemda Aceh Tamiang “mandul” sempat terlontar, akibat Qanun Pemda Aceh Tamiang No. 4 tahun 2003 tentang izin pengelolaan pengusahaan sarang burug walet yang ditandatangai pada tanggal 22 Nopember 2003 oleh Pj. Bupati Aceh Tamiang Abdul Latif, (kini Bupati defintif 2007-2012), tidak dijalankan. Bahkan kabarnya, qanun ini menjadi salah satu kumpulan koleksi qanun-qanun gagal, hasil produk kepentingan, “Hanya sayangnya label itu tidak terekat dietalase kumpulan qanun Pemda Aceh Tamiang.” tutur Syafruddin.

Rasa kesal Wakil Ketua KNPI ini begitu jelas tergambar setiap kali disinggung tentang persoalan penangkaran walet diluar habitan alami. hanya karena, sebuah kegiatan usaha yang tergolong besar, tetapi tidak memiliki izin dapat terus berkembang subur secara terbuka, tanpa ada tindakan pencegahan, apalagi penghentian terhadap kegiatan dimaksud.

“Sehingga terjadi kecemburuan sosial bagi pengusaha warung kopi, atau kios kecil yang hasilnya tidak seberapa namun, diharuskan memiliki izin usaha, nah…menjadi aneh kalau usaha penangkaran walet, yang keuntungannya sekali panen saja jauh lebih besar, tetapi, tidak memiliki izin, apa itu tidak dikatakan ilegal. Tapi, mengapa tidak dapat ditindak ?, apa itu tidak melanggar hukum namanya ?, ini yang perlu kita pertanyakan, mengapa usaha tanpa izin dapat terus berkembang secara terang-terangan, tetapi usaha ilegal yang tidak tidak terlihat mata, atau yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi selalu dicari-cari.

Selain itu, hal lain yang meresahkan adalah timbulnya kebisingan akibat rekaman suara burung walet yang diperdengarkan melalui alat pengeras suara, yang jelas-jelas menggangu warga yang berada disekitar lokasi penangkaran. “pemutaran rekaman suara burung walet ini tidak mengenal waktu, bahkan disaat orang sedang istirahat siang, apalagi menjelang sore hari, suara itu jelas sangat menggangu,” terangnya. Yang secara kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh dari dari salah satu tempat penangkaran sarang burung walet.

Dijelaskan, dalam Qanun nomor 4 tahun 2003 tentang izin pengelolaan pengusahaan sarang burung walet, bab ketiga tentang perizinan pasal 4 (1), dikatakan setiap orang atau badan hukum yang mengelola dan mengusahakan maupun melakukan penangkaran sarang walet baik yang berada dihabitat alami maupun diluar habitat alami harus dengan izin dari bupati.

Lalu, dilanjutkan dengan pasal 4 (2), Izin sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini diberikan setelah melunasi sumbangan wajib pihak ketiga kepada Pemerintah Daerah sebesar 10% dari potensi dan memenuhi persyaratan-persyaratan lain sesuai dengan peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Sedangankan untuk syarat memperoleh izin tersebut diatur dalam pasal yang sama ayat ke-4, dimana Khusus untuk pengelolaan dan pengusahaan sarang burung walet diluar habitat alami harus melengkapi izin ganguan (HO) dan izin mendirikan bangunan (IMB).

Sementara sumber di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangann dan Aset Kabupaten Aceh Tamiang menyebutkan, hingga saat ini, tidak satu rupiahpun yang ada masuk ke kas daerah dari penangkaran sarang burung walet diluar habitat alami sejak Kabupaten Aceh Tamiang terbentuk.

Dari penelusuran media ini, kesejumlah tempat penangkaran sarang burung walet didalam kawasan Kota Kualasimpang, tak asatupun diperoleh usaha penangkaran yang memiliki izin usaha, satu-satunya yang mereka kantongi adalah izin usaha lain, bukan penangkaran.

Syafruddin juga mensinyalir adanya penyimpangan dalam pengunaan IMB, dimana izin yang dikeluarkan merupakan izin membangun rumah toko, namun realisasinya bangunan tersebut dijadikan rumah penangkaran sarang burung walet, “Apa ini tidak merupakan penyimpangan ?, mengapa bisa dibiarkan?, berarti Pemda Aceh Tamiang legalkan usaha ilegal.

Maka dari itu diharapkan kepada Pemerintah Aceh Tamiang dapat menangani kasus tentang perizinan usaha penangkaran sarang burung walet yang diduga ilegal dan meresahkan warga disekitar pemukiman padat penduduk di tengah-tengah Kota Kuala Simpang [Khairul.A]

Iklan
Kategori:Daerah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: