Beranda > Religi > SESAMA MUSLIM KITA BERSAUDARA

SESAMA MUSLIM KITA BERSAUDARA

Oleh : H Juaini Gadeng, SH, MM

Kita percaya bahwa setiap muslim terhadap muslim lainnya diharamkan darahnya, hartanya dan kehormatannya, bahwa seorang muslim adalah saudara muslim lainnya maka tidak boleh menzhaliminya, merendahkannya, membiarkannya ketika dizhalimi orang lain, menghinakannya dan menyebarkan aibnya, bahwa setiap muslim harus memenuhi undangan sesama muslim, bahwa setiap muslim harus memberikan nasehat bila diminta nasehat oleh sesama muslim dan harus menunaikan sumpahnya jika ia bersumpah diatasnya, bahwa setiap muslim harus men-tasymit (membalas ucapan ’Alhamdulillah’ dengan ucapan ’Yarhamakumullah’) sesama muslim bila bersin, bahwa seorang muslim harus mengucapkan salam kepada sesama muslim ketika berjumpa, bahwa seorang muslim harus menjenguk sesama muslim apabila sakit dan bahwa seorang muslim harus mengurus jenazah muslim yang meninggal.

Allah mempertegas dalam perkara darah (pembunuhan) dan menjadikan penumpahan dengan cara yang tidak haq sebagai penyebab kemurkaan dan laknat-Nya di dunia dan di akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya : ”Dan barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (An-Nisa : 93).

Allah telah menetapkan hukum qishash yang adil untuk pembunuhan yang disengaja sebagai balasan bagi yang membunuh dan sebagai penawar kedukaan bagi keluarga terbunuh serta sebagai penyuci bagi masyarakat dari noda-noda kejahatan ini, sebagaimana dalam firman-Nya : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu hai orang-orang yang berakal supaya kamu bertaqwa” (Al-Baqarah : 178-179).

Dalam ayat lain disebutkan, ”Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.  Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (Al-Isra : 33).

”Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal : jiwa dengan jiwa, orang tua yang berzina dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah” (Muttafaq ’Alaih).  Rasulullah SAW menganggap perkara darah adalah perkara yang besar sebagaimana sabda Beliau, ”Seorang muslim masih tetap lapang dalam agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Ibnu Umar mengatakan, ”Sesungguhnya diantara lembah-lembah urusan yang tidak ada jalan keluarnya bagi orang yang terjerumus kedalamnya adalah menumpahkan darah yang haram dengan jalan yang tidak halal” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Dari Abu Bakar r.a. ia berkata ”Nabi SAW bersabda, ”Jika dua orang muslim berhadapan dengan pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka”, Aku berkata, ”Wahai Rasulullah, wajar bagi yang membunuh, tapi mengapa pula yang dibunuh?”, Beliau menjawab, ”Karena ia juga berambisi membunuh temannya itu” (Muttafaq ’Alaih).

Nabi SAW menegaskan tentang mulianya darah, harta dan kehormatan sesama muslim dan menjadikannya seperti muliannya hari Arafah pada bulan Dzulhijjah di negeri Allah yang mulia, beliau bersabda, ”Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian seperti muliannya hari kalian ini di negeri kalian ini pada bulan kalian ini. Dan kalian akan berjumpa dengan Rabb kalian lalu Dia bertanya kepada kalian tentang amal-amal kalian, maka janganlah kembali kafir atau sesat setelah ketiadaanku dimana sebagian kaliam membunuh sebagian yang lainnya” (Muttafaq ’Alaih).

Nabi SAW mempertegas dalam masalah kehormatan seorang muslim, sehingga mencelanya berarti perbuatan fasik dan membunuhnya sebagai perbuatan kufur, sebagaimana sabda Nabi SAW, ”Mencela seorang muslim adalah perbuatan yang fasik dan membunuhnya adalah perbuatan yang kufur” (Muttafaq ”Alaih).  Bahkan sekedar mengacungkan pedang kepada sesama muslim menjadi penyebab munculnya laknat malaikat, Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya maka malaikat melaknatnya, sekalipun itu saudara kandung seayah seibu” (Diriwayatkan Muslim dan Abu Hurairah).

Dari Abu Musa r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang melewati bagian dari masjid-masjid atau pasar-pasar kami dengan membawa anak panah, maka hendaklah ia memegangnya atau menutupi mata panahnya dengan telapak tangannya agar tidak sedikitpun dari (senjatanya itu) yang mengenai seorang muslim pun” (Muttafaq ’Alaih).  Nabi SAW pun menjelaskan bahwa yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat diantara manusia adalah perkara darah, beliau bersabda, ”Yang pertama diperkarakan diantara manusia pada hari kiamat adalah urusan darah” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Allah telah mengarahkan para hamba-Nya yang beriman dengan sejumlah etika dalam membina hubungan antar sesama mereka.  Allah telah melarang mereka mengolok-olok, mencela diri-sendiri, memanggilnya dengan julukan yang jelek, berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing, Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman yang zhalim.  Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.  Sukakah salah seorang kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati.  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.  Dan bertaqwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (Al-Hujurat 11-12).

Dari Al-Barra’ r.a. ia berkata, ”Nabi SAW memerintahkan kepada kami tujuh perkara dan melarang kami melakukan tujuh perkara.  Beliau memerintahkan kami untuk mengantar jenazah, menjenguk yang sakit, memenuhi undangan, menolong yang dizhalimi, merealisasikan sumpah, membalas salam dan men-tasymit yang bersin.  Dan Beliau melarang kami menggunakan peralatan perak, cincin emas, pakaian sutera, dibaz, qasiy dan istabraq (jenis-jenis pakaian yang terbuat dari sutera)” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Tolonglah saudaramu dalam keadaan berbuat zhalim ataupun dizhalimi”, para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, tentu kami menolongnya jika dizhalimi, tapi bagaimana kami menolongnya dalam keadaan berbuat zhalim?” Beliau menjawab, ”Engkau tuntun tangannya (menghentikannya)”.

Dari Abu Musa r.a. ia berkata, Nabi SAW bersabda, ”Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang saling menguatkan (seraya beliau menyisipkan antara jari-jarinya)”. ”Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi dan saling mengasihi antar mereka adalah laksana satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit maka yang lainnya akan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ’Alaih).

Dari hadits diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ummat Islam itu haruslah menghiasi hidupnya dengan saling tolong menolong dan bersatu.  Yang kuat supaya membantu yang lemah, yang kaya supaya membantu yang miskin, kaum majikan harus menghargai karyawan atau buruhnya, pimpinan harus menghargai anak buahnya dan lain sebagainya.  Cara seperti itu perlu sekali dijalankan, agar tidak terjadi jurang pemisah antara keduanya.

Marilah kita sebagai orang Islam yang kebetulan bernasib mujur, menjadi orang kaya yang berlimpah harta kekayaannya, menolong orang miskin yang hidupnya sehari-hari serba susah.  Betapa senang dan suka cita si miskin itu bila merasa dirinya dibantu oleh saudaranya yang kaya.  Pasti ia tanpa diminta menengadahkan kedua tangannya memohon kepada Allah, berdoa dengan kebeningan hati agar saudaranya yang telah berkenan membantunya dilimpahi karunia lebih banyak, diberi kesehatan dan kesejahteraan.

Saling tolong menolong antara sesama umat Islam itu bukanlah hanya terbatas antara orang kaya dengan orang miskin, tetapi lebih luas lagi dimana orang yang membutuhkan pertolongan wajib kita menolongnya, sebagaimana adat kebiasaan kita dalam sehari-hari.  Orang-orang yang tertimpa musibah itu tergolong orang yang berkecukupan.  Dalam sehari-hari kita melihat bagaimana orang-orang desa membantu tetangganya yang sedang mendirikan rumah.  Dikala ada tetangganya yang meninggal dunia, maka tetangga-tetangga yang lain berbondong-bondong membantu, ada yang menyumbangkan tenaganya menggali liang lahatnya, ada yang membantu membacakan doa-doa untuk si mayit dan terlihat juga para ibu-ibu yang berduyun-duyun datang ke rumah keluarga yang meninggal, dan masih banyak contoh-contoh lain yang mencerminkan kehidupan yang diwarnai saling menolong antara sesama kita.  Sesungguhnya kebiasaan seperti itu hendaknya harus kita lestarikan, sebab, memang begitulah anjuran agama Islam, sehingga dengan demikian akan terjadi persatuan yang kokoh dan persaudaraan yang erat.

Demikianlah hakekat kewajiban kita sesama umat Islam didalam tolong menolong dan kegotong-royongan.  Oleh sebab itu , marilah kita selalu bertaqwa dan meningkatkan ketaqwaan itu melalui berbagai jalan yang diridhoi oleh Allah SWT seperti halnya bertolong-tolongan dalam kebajikan, sebagai mana yang dianjurkan di dalam Islam.

Majelis Syura Forum Penegak Syariat Islam (FPSI) Kota Langsa /Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Langsa

Iklan
Kategori:Religi Tag:
  1. adi isa
    September 22, 2009 pukul 21:36

    artikelnya menarik, dari sisi ilmu sangat baik
    cuman, penulisannya bro,..agak mumet nih mata bacanya.

    nice blog

    salam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: