Beranda > LAPORAN UTAMA > Harapan Yang Tergantung

Harapan Yang Tergantung

taufikACEH TIMUR, Transparan- Udara begitu panas meskipun hari menjelang sore, hembusan angin sesekali menerpa pakaian dinasnya yang terlihat mulai usang.

Taufik Ahmad (47), salah seorang pegawai honorer di Sekretariatan Pemda Aceh Timur, menyusuri trotoar jalanan menuju Simpang Tiga Tugu Langsa, tujuannya untuk mendapatkan mobil penumpang (mopen) angkutan umum antar kota jurusan Langsa-Kualasimpang, tujuannya pulang ke Kampung Buket Panjang Seuneubok, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, dan rutinitas tersebut kerap dilakoninya setiap hari kerja.

Entah karena ingin berhemat, atau memang ia tak memiliki uang lebih, tubuh renta kecil itu terus menyusuri panjangnya trotoar meski sopir microlet maupun  si-abang becak terus menawarkan tumpangan, sebelum tubuhnya menghilang di diantara kursi penumpang mopen yang berhenti tepat dihadapannya.

Mungkin sejenak matanya terpejam dan bermimpi indah tentang masa depan yang belum juga menjadi kenyataan saat tubuhnya terhempas diatas kursi mopen yang terus meluncur.

Langkahnya pun kembali dikayuh, sesaat turun dari mopen, kali ini jarak sejauh 5 km diantara rimbunan pohon kelapa sawit milik PTPN I (persero) harus ditempuhnya agar dapat segera bertemu dengan anak dan istrinya di Dusun Makmur yang telah menanti kepulangannya.

“Untunglah tidak hujan pak, kalau hujan pasti susah masuk kemari kerena jalannya belum diaspal.” Kata Taufik, menyambut kedatangan Transparan. “Ya…kalau pulang atu pergi kerja, terkadang saya menumpang sama tetangga atau siapa saja yang sedang melintas.” lanjutnya lagi.

Taufik Ahmad, pegawai harian yang bertugas merawat alat-alat musik di kantor Bupati dari masa kepemimpinan Alm. Zainuddinn Marz di tahun 70-an, baru diangkat sebagai tenaga honorer pada tahun 2000, tapi sampai sekarang pun kedudukannya masih belum juga berubah, “Entah sampai kapan saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti halnya teman-teman saya yang lain.” ucapnya.

Angan menjadi PNS telah melampaui nalarnya, bahkan sampai ia tak mampu lagi berpikir dan pasrah dengan keadaan, meski harapannya tetap tergantung diantara kebijakan pimpinan daerah.

Gaji yang diperoleh Taufik setiap bulan memang tidak seberapa, bahkan dapat dikatakan jauh dari cukup, sehingga iapun mencoba untuk mencari tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah mengolah lahan pertanian yang didapatnya dengan jalan menyewa dari tetangga.

“Kalau hari libur, atau sepulang kerja, saya menyempatkan diri untuk keladang, ya…terkadang saya tanami dengan padi kalau musim hujan, atau palawija disaat usai menanam padi.” Kisahnya. Karena gaji sebagai tenaga honorer yang di terimanya sebesar Rp.600.000,-an, saat ini tidak mampu untuk menutupi kebutuhan hidupnya.

Wajah lesu bapak lima anak ini, menatap kosong pandangannya ke arah tumpukan kayu bakar di samping rumah, dengan perasaan hampa. Terlintas dalam benaknya,” kapan ya…tumpukkan kayu ini berubah menjadi kompor gas yang gampang untuk di gunakan sebagai memasak. Seperti layaknya teman-teman yang juga bertugas di pemerintahan. Perjalanan panjang dan pahit selama 30 tahunan lebih tetap dilakoninya sebagai tenaga honorer di Pemerintahan Aceh Timur. Walau demikian perasaan syukur kepada Yang Kuasa selalu di panjatkan, karena semua rezki yang di berikan-Nya adalah anugerah. Taufik Ahmad mensyukuri nikmat.** [SYAHDAN GINTING]

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: