Beranda > Daerah > SATU DESA DUA STEMPEL

SATU DESA DUA STEMPEL

stempelMEULABOH, Transparan- NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) yang sering diplesetkan oleh sebagian orang menjadi Nanggroe Aneh di Dunia mungkin ada benarnya, sebab di Aceh, hal yang tidak mungkin itu bisa mungkin terjadi, sekarang kita sebagai masyarakat Aceh bisa merasakan perbedaan dengan daerah lain di Indonesa, seperti halnya dalam politik, masyarakat Aceh diperbolehkan membentuk partai lokal dan Aceh mempunyai undang-undang pemerintahan sendiri (UUPA).

Pasca perdamaian dan pemilihan kepala daerah secara langsung baik tingkat I dan Tingkat II , sebenarnya timbul sebuah harapan dari masyarakat Aceh agar perubahan yang di cita-citakan selama bertahun-tahun dapat terwujud. Tapi agaknya harapan tersebut sudah mulai sirna setelah ungkapan dari laki-laki paroh baya, Darwis,40, tokoh pemuda desa Ule Pasi Ara kecamatan Woyla Barat. Dia sangat kecewa dan bingung dengan kondisi pemerintahan desa Ule Pasi Ara, sebab di dalam desa tempat dia berdomisili sekarang ada dua kepala desa dan dua stempel desa.

Darwis, mengungkapkan kebingungannya saat ingin mengurus surat-surat penting, ada warga mengatakan yang di barat rumah kepala desa dan ada yang menunjuk ke timur, “saya jadi bingung sebenarnya yang mana dan dimana rumah kepala desa kita yang sekarang? ”sebutnya dengan raut wajah kebingungan.

Kebingungan Darwis, semakin memuncak dengan kondisi desa Ule Pasi Ara saat ini, ia takut stempel ganda yang ada di desanya akan digunakan sebagai alat mencari keuntungan pribadi bagi oknum-oknum tertentu, sebab jika seperti ini “kapan Woyla bisa maju“ ungkapnya kepada Transparan.

Memang apa yang dirasakan Darwis ada benarnya, semua orang berakal pasti paham, mana ada dalam satu desa ada dua stempel, hal senada juga diungkapkan oleh Tgk Haji .B, masyarakat Sawang Teubei Kecamatan Kawai XVI, Kabupaten Aceh Barat, saat mendatangi Kantor Biro Transparan Meulaboh di jalan Manekroe.

Tgk Haji B menambahkan, Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat segera memperjelas status stempel ganda di desa Sawang Teubei, agar “ kami tidak kebingungan dalam mengurus surat-surat, papar nya.

Menurutnya, sewaktu ia mendatangi kantor kepala desa yang kabar angin telah diberhentikan oleh bupati, tapi nyatanya kheucik tersebut masih menguasai stempel desa, bahkan ia sempat mendengarkan khabar angin tentang perkataan Sudirman, kepala desa yang telah non aktif, “ Siapa bilang saya telah diberhentikan, coba kamu tanya sama orang yang telah mengelurkan kata-kata itu’. Sebab sampai saat ini belum ada selembar surat yang saya terima dari bapak camat tentang pemberhentian saya, dan kamu bisa lihat stempel dan motor dinas masih sama saya“ kenang Tgk Haji.

Begitu mendengar keterangan dari dua warga, Transparan Biro Meulaboh coba menghubungi kedua kepala desa dimaksud Darwis dan Tgk Haji. Dengan bantuan Darwis dan Tgk Haji kedua kepala desa yang telah dinonaktifkan bersedia untuk di komfirmasi. Nurdin, HS, kepala desa Ule Pasi Ara Woyla Barat non aktif, membantah jika dirinya telah diberhentikan dari jabatan kepala desa, sebab hingga hari ini belum ada surat pemberhentian dari camat atau bupati, dan sampai saat ini semua inventaris desa masih ditangannya, hal senada juga diungkapkan oleh Sudirman kepala desa Sawang Teubei kecamatan Kaway XVI kabupaten Aceh Barat. Sudirman, mengakui ada selembar surat yang ia terima, tapi surat tersebut bukan pemberhentian terhadap dirinya, melainkan pelantikan saudara Mahdi sebagai pejabat sementara kepala desa Sawang Teubei kecamata Kaway XVI kabupaten Aceh Barat, pungkasnya.

Disisi lain pemkab Aceh Barat, melalui kabag hukum dan orgainisasi sekdakab Aceh Barat Mulyadi, SH, membantah kalau belum mengirim surat pemberhentian dua kepala desa tersebut, sebab Bupati Aceh Barat melalui kabag pemerintahan telah mengirim surat pemberhentian dua kepala desa dimaksud. Mulyadi mengatakan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya jalan Gajah Mada tepat di kantor Bupati Aceh Barat beberapa waktu lalu.
Saat ditanya menyangkut keluhan masyarakat di dua desa, desa Sawang Teubei kecamatan Kaway XVI dan desa Ule Pasi Ara Woyla Barat kabupaten Aceh Barat. Mulyadi, SH, menjelaskan, “Semuanya sudah jelas secara aturan dan hukum, jika sudah dilantik pejabat sementara ( pjs ) secara sendirinya kepala desa lama sudah dianggap berhenti dari jabatannya. Terkait masalah ini, saudara Sudirman dan Nurdin, HS, mengakui belum menerima surat pemberhentian mereka sebagai kepala desa itu tidak mungkin, sebab tidak bisa dilantik jika belum ada pemberhentian”, ujar nya dengan tegas.

Mulyadi menambahkan, “sebab surat tersebut sudah ditembuskan kemana-mana, kenapa mereka tidsk menerima, ini kan tidak mungkin”, sambil kebingungan Mulyadi menelpon seseorang dan menanyakan tentang masalah itu, setelah menelpon seseorang, ia menjelaskan lagi.

Ternyata yang ia telpon adalah bagian Pemerintahan Sekdakab Aceh Barat dan dengan tersenyum, Mulyadi mulai memaparkan lagi, bahwa kedua kepala desa tersebut menolak menerima surat pemberhentian terhadap dirinya juga menolak mengembalikan inventaris desa termasuk stempel, ujarnya kepada Trasparan.

Ketika ditanya terkait masalah inventaris desa termasuk stempel yang sampai saat ini masih ditangan kheucik lama, Mulyadi menjawab dengan tenang dan tersenyum, “bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat akan mengakui stempel yang ada pada pejabat sementara ( pjs ), sedangkan inventaris termasuk stempel dalam waktu dekat akan kita konsultasi dulu dengan pihak kecamatan setempat“ paparnya. (TB16)

Iklan
Kategori:Daerah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: