Beranda > Religi > Mewaspadai Mental Koruptif

Mewaspadai Mental Koruptif

Oleh : Budi Juliandi, MA

Salah satu penyebab utama rusaknya negeri tercinta ini adalah korupsi. Menurut berbagai sumber yang bisa kita baca di buku maupun media, korupsi bagaikan virus yang samar bahkan hampir tidak tampak proses kerjanya tapi menimbulkan efek kerusakan yang luar biasa dahsyat. Salah satu kerusakan terparah yang ditimbulkan dari korupsi ini adalah mental atau kondisi kejiwaan dari sang pelaku, karena dia benar-benar sudah tertutup hatinya, sehingga menganggap hal buruk dan tercela yang dikerjakannya adalah suatu yang biasa dan halal hukumnya. Sudah barang tentu kerusakan-kerusakan lainnya adalah kerusakan yang bersifat fisik, karena program atau project pekerjaan yang dikorupsi kualitas maupun kuantitasnya menurun dari standar yang digariskan, meng-ingat dananya sudah disunat dari yang seharusnya.

Sangat banyak berita tentang kasus-kasus korupsi yang diberitakan oleh media masa saat ini, terutama setelah KPK terbentuk. Namun demikian, jika kita perhatikan, sebenarnya perilaku koruptif sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita, bahkan tanpa kita sadari kita sering jadi korban dari perilaku itu atau kita yang jadi pelakunya?

Ada satu contoh betapa mental koruptif  itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang teman kebetulan mengadakan perjalanan dengan menggunakan mobil sendiri untuk menempuh jarak dari Pekanbaru (Riau) sampai Cilacap (Jawa Tengah). Dia tidak memilih terbang dengan pesawat, selain alasan mahalnya tiket pesawat yang tidak terbeli saat itu, juga sekaligus untuk tamasya keluarga di sepanjang perjalanan. Perjalanan ini melintasi propinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dalam rentang jarak ribuan kilometer itulah dia iseng-iseng mengamati perilaku koruptif di keseharian yang  jarang kita sadari atau kita sadari tapi kita anggap tak ada. Contoh perilaku koruptif yang dia dapati sungguh mengejutkan, karena di  hampir  tujuh propinsi di Indonesia. Saat itu dia melakukan pengisian BBM di SPBU, karena dalam perjalanan dia ini, ada sekitar 19 kali dia melakukan pengisian bahan bakar kenderaannya. Di SPBU yang sudah mendapat sertifikasi dari Pertamina akan tertulis slogan : “Tepat takarannya, tepat kembaliannya dan tepat pelayanannya”, nah pada kasus ini dia mengamati kata “tepat kembaliannya”, karena disini perilaku koruptif yang paling mudah dilihat. Ini terutama buat konsumen yang mengisi BBM mobil atau motornya penuh (full tank). Modus operandinya adalah : Petugas SPBU akan terus mengisi/mengalirkan BBM ketika tangki kendaraan sudah mulai penuh, walau angka rupiahnya sudah bulat, misal : Rp. 20.000, Rp. 100.000 atau lainnya. Tujuannya adalah agar nilai rupiah yang tertera di meteran mempunyai pecahan ratusan menjadi Rp. 20.300, Rp. 100.600 atau lainnya. Dengan dalih tidak ada uang kembalian sebesar Rp. 700 atau Rp. 400 seperti pada kasus di atas, konsumen “dipaksa” membayar dengan pembulatan ke atas menjadi Rp. 21.000 atau Rp. 101.000.

Perilaku di atas ternyata seolah–olah sudah menjadi trend dan dianggap biasa di hampir semua SPBU yang dia singgahi saat itu. Hal itu tentunya merupakan suatu perilaku koruptif yang terang – terangan dan sangat merugikan konsumen. Nilainya memang tidak seberapa untuk tiap – tiap konsumen, tetapi coba kalikan berapa konsumen yang mengalami hal tersebut setiap harinya, setiap minggunya, setiap bulannya bahkan setiap tahunnya. Pasti jumlahnya bukanlah sedikit. Mungkin cukup untuk membantu biaya berobat keluarga miskin atau membantu biaya sekolah anak – anak terlantar di suatu daerah.

Terlepas dari semua itu, mental dari pekerja – pekerja SPBU yang melakukan hal itu menjadi terlatih untuk tidak jujur dari hari ke hari, dan itu akan terbawa dalam pola keseharian hidup mereka. Rasanya perlu ada langkah sistematis dari semua pihak untuk bisa mengatasi hal tersebut di atas, karena masih sangat banyak modus korupsi seperti tersebut di atas yang dilakukan di area – area lain di luar SPBU…. Anda punya jawabannya?

Contoh lain perbuatan korupsi dan mental koruptif yang terjadi sehari-hari adalah kebiasaan datang ke kantor tidak tepat waktu dan pulang lebih cepat dari jam yang sudah ditentukan. Kalau itu dilakukan oleh para guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi maka dampaknya adalah banyak siswa dan mahasiswa yang tidak terlayani secara optimal di ruang kelas dan di ruang kuliah. Mereka menunggu guru atau dosen yang sering datang terlambat dan ketika sang guru atau dosen masuk ke kelas, si dosen malah ingin buru-buru mengakhiri perkuliahan sebelum jam belajar dan perkuliahan berakhir. Bagi pegawai kantoran, banyak masyarakat yang terlantar, tidak selesai-selesai urusannya, dan kecewa karena si pegawai tidak berada di tempat, datang terlambat, dan buru-buru mau pulang sebelum jam kantor berakhir. Belum lagi sebagian mereka melakukan kegiatan fiktif, perjalanan fiktif, tiket fiktif, suap dan gratifikasi, dan lain-lain. Perbuatan yang mana secara sadar maupun tidak sadar dilakukan oleh hampir di setiap instansi pemerintah maupun swasta.

Apa pemahaman koruptor tentang Allah SWT?

Apakah para koruptor itu beragama? Tentu saja ! Mereka mungkin malah sangat disiplin waktu beribadat, rajin beramal sedekah, dan rajin berziarah, namun tetap saja melakukan tindak korupsi. Ada tiga pemahaman koruptor tentang Allah SWT;

Pertama, mereka sama sekali tidak ingat Allah SWT saat melakukan korupsi. Allah dianggap tidak campur tangan dalam soal bisnis atau keuangan. Bisnis adalah dunia kotor dan Allah tidak hadir atau campur tangan dalam kegiatan bisnis kotor. Mereka akan mengambil setiap peluang untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya.

Kedua, mereka menganggap Allah itu tidak adil. Yang kaya malahan diberi peluang untuk menjadi semakin kaya, sedangkan yang miskin tetap miskin malah menjadi semakin terpuruk. Maka jangan mau termasuk kelompok yang miskin karena hidup akan semakin sengsara. Mereka memilih untuk menjadi kaya bagaimanapun caranya karena menurut mereka Allah akan membuka peluang yang lebih besar bagi orang yang kaya.

Ketiga, mereka menganggap dirinya korban keadaan. Mereka merasa selalu tertimpa nasib sial, tidak pernah merasa beruntung, sedangkan kata orang nasib itu ditentukan oleh Allah.

Maka untuk memperbaiki nasib mereka merasa tidak perlu lagi bergantung kepada belas kasihan Allah SWT. Mereka merasa harus mengusahakan nasibnya sendiri dengan berbagai cara termasuk korupsi  karena nasib baik terbukti tidak pernah diberikan kepada mereka.

Dari Mana Mental Korupsi Itu?

Mental koruptif terdapat pada setiap manusia yang tidak mengadopsi nilai  kejujuran dan ketulusan hati. Orang yang jujur tidak mau mengambil harta yang bukan haknya, yang bukan hasil jerih payahnya sendiri yang halal. Orang yang tulus tidak mau memanfaatkan orang lain atau keadaan untuk menguntungkan dirinya sendiri melampaui apa yang menjadi haknya yang wajar. Di mana batas antara mengambil keuntungan dengan menipu orang lain? Batasnya ada di dalam nurani manusia dan akan tampak bila ada transparansi.

Bila seorang mengambil keuntungan yang wajar maka ia tidak malu bila angkanya sampai diketahui pelanggannya; bila sebaliknya ia menguras keuntungan yang tidak wajar maka ia akan merasa malu bila kedoknya terbuka. Bahkan ia mungkin akan kehilangan pelanggan bila kecurangannya itu diketahui mereka; apalagi mereka itu temannya sendiri.

Adakah orang yang rela ditipu mentah-mentah oleh kawannya sendiri?

Nilai kejujuran sudah dimulai sejak kecil. Ada anak kecil yang jujur tetapi banyak juga yang bermental tidak jujur. Pertanyaannya mengapa antara dua anak sekandung, yang orangtuanya sama, situasi rumah tangganya sama, pendidikannya sama, sekolahnya sama, tetapi yang satu anak jujur sedangkan yang lainnya ternyata tidak jujur. Yang satu rajin belajar, yang lainnya rajin menyontek. Yang satunya enggan jajan, yang lainnya nilep uang sekolah untuk jajan. Yang satunya rajin belajar, yang lainnya hanya membuat ‘kopek-an’ pada malam sebelum ulangan atau pagi sebelum ujian.

Kemungkinan, walaupun mereka anak dari orang tua yang sama namun pendidikan nilai dalam bentuk peneladanan atau penuturan yang langsung ditangkap dan dianut oleh anak yang satu tetapi tidak ditangkap  atau ditangkap tetapi tidak dianut oleh anak yang lainnya.

Umumnya suatu nilai dianut atau diadopsi untuk seumur hidup. Seorang yang mengadopsi nilai kesederhanaan akan menjalankan pola hidup sederhana sepanjang hidupnya walaupun dapat saja dalam kenyataannya ia berhasil menjadi seorang yang kaya raya.

Orang yang tidak mengamalkan  nilai kesabaran pada dirinya akan berkembang menjadi manusia yang pemarah. Orang yang tidak mengamalkan nilai tawakal akan cenderung berkembang menjadi manusia penggerutu, pesimis, murung, bermuram durja, dan selalu memberontak tehadap keadaan. Orang yang tidak mengamalkan nilai ketaatan cenderung menjadi manusia mbalelo yang suka melanggar peraturan hukum dan aturan agama.

Dapat saja seorang menjadi terkenal, pendakwah ulung, penderma yang murah hati, pembicara yang santun, ramah dalam pergaulan, tetapi diam-diam mempunyai wanita lain simpanan (WIL), senang surfing website porno, memiliki koleksi gambar dan kisah porno, melakukan masturbasi ketika kesepian sendirian, karena ia tidak mengadopsi nilai kemurnian hati.  Orang banyak memberi cap dia sebagai manusia munafik  yang lain perbuatan dari perkataan tetapi tuduhan ini hanya sebagian benar, alias keliru. Ia bukan manusia munafik tetapi ia hanyalah seorang yang memiliki nilai kemurnian hati. Hatinya tidak murni dan karena itu pikirannya ngeres dan perbuatannya juga mengikuti paradigmanya.

Pendidikan Sejak Dini

Manusia adalah makhluk yang dapat menerima suatu pendekatan. Anak balita berada pada kondisi yang paling mudah didekati secara lemah lembut oleh orang tuanya. Pendidikan nilai itu dilakukan melalui dongeng sebelum tidur, atau kisah-kisah para nabi dan rasul, sahabat Rasulullah dan orang-orang saleh lainnya. Boleh dikatakan inilah saat yang tepat bagi para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai luhur ke dalam lubuk hati (dalam psikologi diistilahkan sebagai alam bawah sadar) si buah hati. Maka seumur hidup ia akan teringat bahwa dulu sewaktu kecil ibunya pernah menasihatkan dirinya untuk hidup prihatin, hidup jujur, hidup suci, dsb. Bila anak itu setelah dewasa saat sedang menghadapi godaan untuk berbuat kejahatan maka suara hati nurani mengingatkan dia akan “kata-kata ibunya” sehingga ia urung melakukan perbuatan buruk tersebut. Ia hanya akan jatuh, bila ia dengan secara sengaja dan sadar melawan bahkan membunuh suara hati tersebut karena telah dikuasai keinginan atau nafsu yang kuat akibat terus-menerus dan sering melakukan sesuatu yang melanggar hati nuraninya.

Pentingnya Program Penyadaran

Setelah balita masuk TK dan SD maka pengaruh dorongan orang tuanya semakin berkurang. Idola mereka sekarang ialah bapak atau ibu guru. Nasihat guru menjadi pegangan mereka sehingga dalam pertentangan antara pendapat guru dan pendapat orang tua biasanya dimenangkan oleh pendapat guru. Sia-sialah usaha orang tua untuk “meneriakkan” segala macam nilai-nilai luhur, karena kata-kata orang tua itu akan cenderung masuk telinga kiri untuk keluar dari telinga kanan. Apalagi apabila nasihat yang lebih merupakan kecaman atau kritik itu disertai dengan hawa amarah. Ibaratnya mengajarkan ilmu pelayaranpada saat kapal dilanda angin taufan.

Ada orang tua yang menghajar babak belur anaknya sendiri untuk, katanya, mendidik nilai sopan santun. Anak ini hanya menjadi anak korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sekaligus tertanam bibit “luka batin” yang harus dideritanya seumur hidup, sebelum ia mengikuti tuntas bagian “penyembuhan luka batin”, baik oleh psikolog ataupun penasehat keagamaan. Bila ia tidak menjalankan proses penyembuhan batin seperti itu, maka jangan heran kalau tingkah lakunya berkembang menjadi menyimpang. Bila ayahnya ‘bajingan’ maka anak ini akan menjadi ‘super-bajingan” karena ia ingin “mengalahkan” ayahnya secara psikologis yang tidak mampu dilawannya dalam dunia nyata.

Hanya dengan menjadi “super bajingan’ ia merasa telah mampu mengalahkan ayahnya secara telak karena ayahnya akan dipermalukan oleh perbuatnnya. Tragis memang kalau sampai terjadi hal yang demikian itu ujung-ujungnya.

Setelah melewati masa praakil balig maka idola anak akan bergeser lagi dari guru menuju sahabat terdekat. Bila sahabat terdekat memiliki nilai atau nilai yang sama maka mereka akan akrab satu sama lain. Kata pepatah “Birds of the same flock fly together.” Yang arti bebasnya, hanya lalat dan belatung saja yang sama-sama mengerumuni bangkai-bangkai. Maka peranan orang tua di sini ialah mengawasi sahabat akrab dari anaknya dan mencegahnya untuk bergaul apalagi untuk bersahabat dengan anak yang kurang baik akhlaknya.

Untuk orang dewasa diperlukan sarana lain yang sifatnya reflektif dan meditatif. Kuliah Manajemen Qolbu seperti dulu yang pernah dilakukan oleh AA Gym misalnya, dapat memberikan renungan-renungan reflektif meditatif yang sarat nilai-nilai luhur bagi para pendengarnya yang membanjir di setiap kota besar yang dikunjunginya.  Kegiatan ini menurut penulis perlu dihidupkan kembali walaupun mungkin bukan AA Gym lagi sebagai penceramahnya, dengan tujuan yang lebih substantif yang harus mendapat ruang perhatian lebih utama, yakni membersihkan jiwa dari perilaku-perilaku yang kotor, nista, destruktif, bermental buruk dan lain seterusnya. Yang jelas, timbulnya kesengsaraan hidup yang dialami rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke diakui maupun tidak merupakan akibat dari segala bentuk mental koruptif ini.

Penulis adalah Dosen STAIN Zawiyah
Cot Kala Langsa

Iklan
Kategori:Religi Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: