Beranda > Religi > Berbaik Sangkalah

Berbaik Sangkalah

-t Iqbal

Oleh Tgk. H. Iqbal, B. Th, MA

Dan mungkin saja sesuatu yang kamu benci sesungguhnya baik bagimu, dan sebaliknya sesuatu yang kamu senangi justru buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”. (QS: Al-Baqarah: 216)
Ayat tersebut memberikan panduan bahwa tidak selamanya dugaan atau sangkaan manusia itu benar sepertimana mestinya. Keterbatasan pengetahuan tentang hakikat sesuatu, dan keterbatasan indera fisik manusia yang pada umumnya hanya mampu menangkap apa yang tampak secara fisik akan mengakibatkan manusia sering tersalah dengan dugaannya sendiri.

Jalaluddin Al-Rummy dalam Kitabnya  Al-Matsanawi ( sebuah kitab yang berisi kumpulan cerita hikmah),  memaparkan sebuah ilustrasi tentang bagaimana menyangka atau menduga ( baik atau buruk) memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri manusia bukan hanya emosi bahkan pula fisiknya.

Cerita hikmah tersebut berkisah tentang seorang guru yang pada suatu hari berdiri di depan para muridnya seperti biasa mengajarkan pelajaran. Sebelum sang guru masuk ke kelas para murid karena enggan mengikuti pelajaran, bersepakat agar kelas di hari itu di bubarkan. Ketika sang guru masuk dan menyapa murid-muridnya, maka salah seorang murid mengatakan pada gurunya itu. “ wahai guru tampaknya wajah guru hari ini pucat sekali, mungkin guru sakit”, sang guru dengan  yakin mengatakan saya sehat-sehat saja. Kemudian murid yang lain mengatakan, “benar guru saya melihat guru hari ini letih sakali, mungkin benar juga, guru memang sakit”. Ucapan murid kedua tadi agak mengusik sang guru, tapi ia tetap meyakinkan muridnya bahwa ia sehat-sehat saja. Lalu murid berikutnya mengatakan, “ wahai guru kalau memang guru tidak sehat, baiknya guru pulang dan istirahat saja”.  Ucapan murid yang terakhir ini agaknya membuat sang guru mulai terpengaruh dengan ucapan  para muridnya dan menyangka bahwa memang sebenarnya ia tidak sehat pada hari itu. Dan akhirnya sang guru benar-benar yakin kalau ia tidak sakit dan kelas di bubarkan.

Setibanya di rumah, sang guru menemui istrinya dan berkata dengan nada yang keras, “ mengapa engkau tidak mengatakan pagi tadi kalau aku sakit? apa engkau tidak lagi peduli padaku?”, sang istri dengan wajah heran menjawab,” wahai suamiku dirimu memang tidak sakit, lihatlah badanmu masih segar dan kuat”. Tampaknya ucapan istrinya tadi tidak lagi dipercayainya, sehingga sang guru merebahkan dan serta merta menyelimutinya badannya di atas tempat tidur.

Ucapan bohong tadi akhirnya sampai ke telinga orang tua murid, dan mereka segera mengklarifikasi ucapan anak-anak mereka. Mereka mendatangi rumah sang guru dan mengatakan bahwa anak-anak mereka telah berkata dusta agar sang guru membubarkan kelas di hari itu. Wal hasil tetap saja sang guru membenarkan ucapan murid-muridnya dan mengatakan kepada orang tua murid,” bapak-bapak hari ini saya memang merasa tidak sehat, sungguh saya merasa letih dan lelah, saya tidak mungkin kembali ke sekolah, saya perlu istirahat”.

Kisah tersebut diisyaratkan Ar-Rumy bahwa seseorang akan memenangkan dugaan atau sangkaan (bisa saja dugaan tersebut dari diri sendiri maupun orang lain), akan berfikir dan bertindak sesuai dengan dugaan atau sangkaanya, terlepas kemudian sangkaan tersebut benar atau salah. Kisah di atas menjelaskan kalau saja sang guru tidak terpengaruh dengan ucapan para muridnya, dan ia tidak memunculkan dugaan kalau-kalau ia sakit seperti ucapan muridnya,  tentunya kelas akan berlangsung sampai selesai. Akhirnya meskipun semua orang berusaha meyakinkan bahwa sang guru dalam kondisi yang baik, tetap saja ia menduga dan yakin bahwa ia dalam keadaan sakit.

Kisah tersebut jika direfleksikan ke dalam kehidupan nyata, akan ditemukan betapa banyak orang kaya yang menduga dirinya miskin, sehingga ia akan berfikir berkali-kali untuk mensedekahkan sedikit dari harta miliknya, dengan dugaan hartanya akan ber-kurang dengan cara di sedekahkan itu. Orang kaya tersebut telah dibohongi oleh dugaannya sendiri bahwa hartanya akan habis ketika dialirkan pada pihak lain. Padahal Islam mengajarkan sesungguhnya yang menjadi harta justru sesuatu yang dinafkahkan, apalagi yang dinafkahkan itu adalah harta yang paling dicintainya.

Lihatlah pula betapa banyak orang yang berkekurangan merasa kaya, yang merelakan sedikit yang ia punya  kepada orang lain.  Mestinya merekalah yang patut merasa khawatir akan kekurangannya. Namun karena besarnya dugaan dan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin mengabaikan mereka yang tidak mengabaikan orang lain, maka yang hadir dalam fikiran mereka adalah dugaan bahwa cukuplah apa yang mereka punya.

Misal lain dari sirah ketika para Nabi SAW dan para shahabatnya dapat memenangkan perang Badar dengan jumlah pasukan yang tidak berimbang berbanding pasukan musuh-kafir.  Ini adalah kemenangan yang Allah SWT tentukan dan tentu tiada siapapun mampu mengingkarinya.  Akan tetapi besarnya keyakinan dan sangkaan baik Nabi SAW dan para shahabat bahwa di saat itu, Allah SWT akan berpihak kepada mereka, tentu tidak dapat pula di kesampingkan.

Tamsilan di atas menunjukkan betapa besar kekuatan dugaan atau sangkaan yang serta merta dapat mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Tinggal lagi bagaimana semestinya kekuatan tersebut dikelola dengan baik. Firman Allah:
…dan janganlah pernah kamu berputus asa terhadap rahmat Allah..sesungguhnya hanya orang-orang yang tidak berimanlah yang berputus asa akan rahmat Allah. (QS: Yusuf: 87)

Pengharapan sepenuhnya kepada kebesaran Allah adalah bentuk penyeimbang dari sikap putus asa dan kekalahan. Pengharapan terhadap ampunan Allah SWT, di atas kesalahan yang dilakukan. Pengharapan untuk dapat meraih kebaikan dan memenangkan hidup menuju husn al-khatimah. Serta pengharapan yang mengantarkan manusia untuk bersangka baik pada Allah.

Wallahu ‘Alam bi al-Shawab

(Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Babul Khairi Julok, Dosen Universitas Al-muslem, Serambi Mekkah, STIKes Idi, Aceh Timur, Sekretaris Rabithah santri (Rassa) Se- Aceh, Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Inshafuddin Aceh Timur, dan  Wakil Ketua Korp Senior Wartawan  Republik Indonesia (Koswari) Aceh Timur
)

Iklan
Kategori:Religi Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: