Beranda > Daerah > Si-Malang Khairun Amandani

Si-Malang Khairun Amandani

ACEH UTARA,Transparan- Khairun Amandani, 10 tahun  anak cacat asal Gampong Meunje Peut Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara. Mengalami cacat  sejak lahir. Amandani bocah malang dan lagi cacat yang saat ini sangat membutuhkan bantuan para dermawan untuk membiayai pendidikannya di Sekolah  SLB Desa Uteun Geulinggang Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

Siang itu, Amandani terlihat kegirangan ketika  diturunkan dari gendongan neneknya Numani, 45 tahun warga desa yang sama saat difoto dengan seragam sekolahnya. Meski tidak dapat duduk sempurna, namun tetap ingin berpose layaknya foto model sambil tertawa lebar tanpa suara.  Jika dapat bicara mungkin dia akan berkata, aku ingin jadi foto model seperti anak normal lainya.

Seandainya manusia dapat memilih maka Amandani, tidak akan pernah minta dilahirkan dalam keadaan cacat seperti ini. Sepuluh tahun yang lalu Amandani lahir di desa Munjee dengan mata tertutup dan tidak bisa bersuara,  Menurut neneknya Numani, 45 tahun  meskipun pernah dibawa ke Rumah Sakit untuk dilakukan pengobatan tapi tetap saja keadaannya  tidak mengubah nasipnya.

Hal ini diperparah lagi dengan sikap ibu kandungnya yang tidak bersedia menerima Amandani apa adanya. Sepertinya tidak mau menerima kenyataan ini.  Numani nenek yang selama ini mengasuhnya mengatakan, kalau ibunya menolak untuk menyusui anaknya yang cacat, bahkan sampai Amandani pingsan karena kehausan. Penderitaannya belum berakhir sampai disitu. Dua puluh lima hari setelah kelahirannya, kakek Amandani juga ikut-ikutan menyumpahi bayi yang tidak berdosa ini.

“Tendang saja dia  sampai menempel dilangit biru, agar tidak pernah tampak batang hidungnya lagi”, ujar. Sambil mengusap air mata yang hampir jatuh, Numani menirukan kata-kata kakeknya. Lalu pada umur dua tahun, ibu Amandani minta diceraikan oleh ayah Amandani, karena tidak mau merawat dan membesarkan anak cacat.  Malah ibunya tega untuk tidak mengakui Amandani sebagai anak kandungnya.

Numani mengaku, untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, dia hanya pedagang kecil penjual “tape” keliling, dengan sepeda botot yang tampak usang sedangkan Amandani selalu dalam gendongannya. Sambil mencari nafkah nenek 45 tahunan ini terus berusaha mencari dana buat pengobatan Amandani cucunya. Tidak hanya sampai disitu, dia mengaku, pernah mengupayakan pengobatan alternatif buat cucunya saat mendengar bahwa di Lampulo Banda Aceh ada suatu pengobatan alternatif yang katanya, mampu menyembuhkan amandani, meski harus menggadaikan rumahnya, karena tidak memiliki biaya.

Setelah berjalan selama sembilan bulan berobat di Lampulo Banda Aceh, Numani pernah mencoba mencari bantuan biaya berobat  ke Kantor Gubernur Aceh, atas petunjuk dan saran dari beberapa orang yang merasa trenyuh saat melihat kondisi Amandani. Namun sampai saat ini dia belum pernah mendapatkan bantuan  apapun,” ka tujoh ge on jak bak Gubernur, tapi hana meurumpok sapu” kata Numani putus asa.

Selain melakukan upaya penyembuhan cucunya, Numani juga tidak mengabaikan pendidikan bagi Amandani. walaupun cacat, Amandani juga berhak mengecap pendidikan.” Semua yang  saya ceritakan pada ibu (Transparan-red) benar karena Allah, saya tidak mengada ada,” ungkap Numani mengakhiri ceritanya sambil meminta agar foto cucunya  ikut dimuat di surat kabar, pintanya (TW02)

Iklan
Kategori:Daerah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: