Beranda > Sosok > Harus Jaga Kepercayaan

Harus Jaga Kepercayaan

Sejumlah kalangan di Aceh khususnya mereka yang memiliki usaha perdagangan atau mereka yang bergerak dibidang bisnis perdagangan dan industri, pasti tidak merasa asing, bila mendengar nama Firmandez.

Pria kelahiran 21 Oktober 1960,  dengan postur tubuh tinggi besar ini, tidak hanya mengelola sebuah hotel berbintang di kawasan Kota Banda Aceh, sejumlah bisnis lainpun ditekuninya, bahkan sampai saat ini Firmandez masih memangku jabatan sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri  (KADIN) Aceh.

“Saya mulai mengenal bisnis kususnya berdagang itu sejak masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, kira-kira saat itu saya masih kelas dua.” kata Firmandez, saat dihubungi Tran-sparan melalui handphone. Kamis (13/8) yang diketahui saat itu, ia sedang berada di Jakarta.

Bukan orang bisnis namanya kalau selalu berada dirumah, setidaknya itulah yang dapat ditangkap dari aktifitas Firmandez setiap hari. Kesibukannya menangani berbagai bisnis tentu membuat ia jarang berlama-lama didaerah apalagi dirumah berkumpul dengan keluarga. Meski demikian, sesibuk apapun diakuinya keluarga tetap menjadi nomor satu, “Semua yang kita cari hari ini adalah untuk keluarga, untuk masadepan anak-anak kita.” sebutnya.

Anak ketiga dari sebelas bersaudara pasangan Nyak Muddin Puteh dan Rubiah ini, mengaku jiwa berbisnisnya sudah tertanam sejak kecil, bahkan diyakini keluarganya memang memiliki jiwa wirausaha. “Dari sebelas bersaudara hanya satu yang menjadi pegawai BRI, yang lain semuanya memiliki usaha, ya…ada yang berdagang, ada juga yang menjadi kontraktor, pokoknya keluarga kami cenderung melakukan bisnis.” lanjutnya.

Masih dari seberang telepon, Firmandez mulai menuturkan kisahnya dimasa kecil, “Kelas dua SMP itu saya sudah mulai jualan, di Lampahan-Takengon, saya ingat betul bagaimana ketika itu saya harus bagun pagi-pagi, dengan berjalan kaki, saya membawa dagangan saya dikepala (dijunjung-red) kepasar, saat itu saya berjualan hasil perkebunan, seperti sayur atau buah-buahan.

Berdagang seperti itu terus saya jalani sampai tamat SMP, nah….sewaktu SMA saya mulai berjualan barang-barang kelontong  di pekan Simpang Tritet, sampai saya tamat SMA di Takengon. Sejak itu saya mulai benar-benar suka dengan yang namanya dagang.”  katanya.

Secara berangsur-angsur, seiring dengan bertambahnya usia, diramu sedikit pengalaman dimasa masih duduk dibangku sekolahan, Firmandez-pun mulai menekuni dunia bisnis, bahkan disaat ia berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Syah Kuala Banda Aceh, ia bersama beberapa orang temannya satu fakultas, mendirikan sebuah koperasi, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Koperasi Mahasiswa Syah Kuala.

“Waktu pertama sekali Koperasi Mahasiswa Fakultas Ekononomi dibuka, oleh teman-teman saat itu, dipilihlah saya menjadi ketua koperasi, setelah koperasi ini berkembang lalu kami mencoba untuk membuka koperasi untuk seluruh mahasiswa Syah Kuala, Alhamdulillah, atas dukungan teman-teman mahasiswa, dosen dan juga semua pihak yang terlibat di universitas, Koperasi Mahasiswa Unsyiah akhirnya dapat berdiri.” Papar Firmandez.

Masih berbekal pengalaman berdagang plus ilmu yang ditimba dari bangku kuliahan, serta mendapat sedikit kepercayaan dari teman-teman terdekatnya, Firmandez memulai usaha penjualan minyak pelumas di Kota Banda Aceh, yang belakangan menjadi salah satu penyalur atau agen dipertengahan tahun 1983.

Tak sampai disitu, usaha yang dirintisnya mulai bangkit secara berlahan. Atas dasar ketabahan, keuletan dan kesempatan, akhirnya bisnis yang digeluti menembus benteng pertahanan perusahaan PT. Mobil Oil, sebuah perusahaan pertambangan minyak dan gas yang bermarkas di Lhoksukon – Aceh Utara.

Baru, pada tahun 1985 ia menerjunkan diri sepenuhnya dibidang kontraktor leverensir. Berbagai proyek, baik kecil maupun besar mulai diraupnya secara berkala, bahkan atas kepercayaan yang diperoleh, ia mulai melangkah menangani berbagai proyek besar, diantaranya membangun pemukiman transmigrasi Patok 1 hingga Patok 5 di Takengon – Aceh tengah.

“Segala sesuatunya kita harus yakin, dan yang paling penting jangan, pernah mensia-siakan kesempatan dan kepercayaan yang pernah diberikan orang lain kepada kita, karena kesempatan tidak pernah akan datang untuk yang kedua kalinya, selain itu kita harus berani berlaku jujur dalam segala hal, jangan kita selalu mengatakan selalu susah sementara kenyataannya kita mulai hidup enak, itu namanya tidak mensyukuri apa yang telah berikan, bisa-bisa kita betul-betul mendapatkan kesusahan, mulailah belajar jujur dengan diri sendiri.” nasehatnya.

Ya, sepertinya itu pula yang dilakoni Firmandez untuk mencapai sebuah kesuksesan. Ketabahan, kejujuran, keuletan, serta kemampuan meraup simpati dan kepercayaan dari orang lain, disamping jeli melihat peluang dan kesempatan dalam mengelola sebuah bisnis. “Keberhasilan kita tidak pernah terlepas dari sentuhan tangan orang lain, dan selalu-lah menghargai jasa-jasa orang lain, sekecil apapun jasa itu.” pinta Firnandez diakhir perbincangan lewat selular selama hampir 15 menit itu.**[ Khairul.A]

Iklan
Kategori:Sosok Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: