Beranda > LAPORAN UTAMA > Haruskah Hidup Tetap Begini?

Haruskah Hidup Tetap Begini?

TRANSPARAN EDISI 11 .pmd

Muslim bersama istri menatap kosong penuh harap didepan gubuk yang dijadikan tempat tinggal, Rabu (19/8). Meski telah mengajukan proposal bantuan rumah, tetap saja mereka hidup bak tunawisma.(CHAIDIR AZHAR)

Jauh dari pemukiman penduduk Desa Ujong Tanjong Kecamatan Meurebo Kabupaten Aceh Barat. Tampak dua sosok anak manusia, yang sudah setengah baya dengan wajah pucat pasi menatap kosong kearah genangan air yang menghiasi halaman rumahnya. Muslim(39) dan Surati (35), adalah sepasang suami-istri dengan 3 orang putra yang sudah putus sekolah.

“Mampir dik, ucapnya, hati-hati banyak lintah, kalian mau kemana….? ” kata Surati ditemani suaminya Muslim, menyambut kedatangan Transparan yang hendak kerumah nya. “ Dia mengatakan, dulu disini adalah bekas relokasi korban tsunami dari Desa Suak Indrapuri Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat, tetapi sekarang, udah sepi mereka sudah pindah karena dapat rumah bantuan, nah….begini lah kondisi rumah kami, sekarang tinggal kami berdua yang menetap disini”, ucap Surati.

Ia juga menambahkan, “ Sebenarnya putra kami ada tiga orang yang sekarang ikut sama saudara dan sepupu abang.“ sambil melihat pada suaminya Muslim. Tetapi mereka sudah tidak bersekolah lagi, sebab kami tidak sanggup lagi membiayai sekolah mereka. Menurutnya. kami berdua saja dua hari sekali baru dapat merasakan makan nasi, bagaimana mau sekolahkan anak-anak “ tambah Muslim Ketika ditanya kenapa belum pindah dari barak?… Surati langsung menangis.

Bagaimana kami bisa pindah, rumah bantuan yang dijanjikan sampai saat ini kami tidak jelas apakah dapat atau tidak, apalagi dengan kondisi suami saya yang sakit asma kronis, dengan pekerjaan sebagai pemulung botol aqua bekas, mau bangun rumah pakek apa, tadi siang aja kami cuma makan kangkung yang direbus dengan air saja, ucapnya dengan bibir yang gemetar diiringi tetesan air mata yang membasahi pipinya.

Surati, sambil menangis terus menceritakan kisah hidupnya,” sekarang jika bicara ma-salah rumah bantuan sebenarnya saya sudah muak, walaupun saya menjerit sampai habis suara dan menangis sampai kering air mata, Bupati Aceh Barat tetap tidak mau mendengar jeritan orang miskin seperti kami.

Waktu kampanye, menurutnya, dulu bicaranya manis, akan membebaskan kami dari barak, tapi setelah terpilih datang saja enggak pernah” ungkap Surati.

”Asal adik tahu,” lanjutnya, kakak nggak malu lagi cerita sama adik, dua bulan yang lalu kakak pernah ambil beras di kios orang dua genggam, itu saya lakukan untuk hidup, karena pada saat itu abang lagi sakit keras, kenangnya. Waktu suami saya sakit, saya cukup panik, tiba-tiba saya melihat mobil bupati lewat dan langsung saya stop, tujuan saya mau minta tolong agar dia bisa membebaskan biaya pengobatan suami saya, yang pada saat itu lagi terbaring di rumah sakit. Tetapi saya dimarahi oleh orang yang keluar dari mobilnya, dengan mengeluarkan kata-kata, mengapa kamu berani stop mobil ini, kamu tahu ngak ini mobil bupati, Surati menirukan ucapan orang yang keluar dari mobil itu. Sambil menghela nafas, dia berujar, dasar orang miskin memang tidak pantas dekat dengan orang kaya apa lagi pejabat pemerintahan, seperti bupati.

Untung saja ada pak Afrizal, orang dari dinas kesehatan yang membantu membuatkan kartu Jamkesmas, kalau tidak suami saya mungkin sudah meninggal, ujarnya sambil menangis terisak-isak.

Masih dengan berlinang air mata, Surati menyuruh suaminya mengambilkan air bersih yang jaraknya 200 meter dari lokasi rumahnya, air sumur bor yang ada di relokasi tersebut sudah di bongkar oleh pengurus karena relokasi ini sudah gusur oleh pemda, sebab mau didirikan terminal terpadu di lokasi ini, ungkap Surati.

Ketika ditanya apakah su-dah pernah mengajukan untuk mendapatkan bantuan rumah, Muslim menjawab dengan na-da yang tinggi, “ yang belum saya tampal mereka dengan berkas ini” sambil mengangkat berkas permohonan yang ada pada tangan nya, waktu itu Tarfin selaku Kabag Sosial, namun apakah sekarang masih menjabat, saya juga tidak tahu, dia bilang saya tidak layak untuk mendapatkan bantuan rumah” ungkap Muslim dengan nada kecewa.

“Sekarang semuanya saya serahkan kepada Tuhan, jika memang orang miskin sudah tidak ada tempat di dunia ini, saya mohon agar secepatnya di jemput saja, kalau hidup seperti ini di daerah yang kata orang daerah kaya serta banyak bantuan yang datang kenapa kami tidak berhak menerima-nya, ya… lebih baik saya ditelan tsunami saja”, ungkap Muslim mengakhiri pembicaraan yang di sambut dengan tangisan dari Surati (TB16)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: